BPS OKU Latih Petugas Susenas Maret 2020

Baturajaradio.com - Pada era Sustainable Development Goals (SDGs), Data Revolution, Big Data, dan Nawacita seperti sekarang ini, informasi capaian pembangunan merupakan sumber data utama bagi para pemangku kebijakan dalam merencanakan pembangunan nasional. Indikator statistik digunakan oleh kementerian/lembaga dan berbagai pihak untuk perencanaan, monitoring, dan evaluasi, serta pengukuran akuntabilitas pembangunan kesejahteraan masyarakat.

Demikian disampaikan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten OKU,  Ir. Budiriyanto, MAP, dalam sambutannya pada acara Pembukaan Pelatihan Petugas Lapangan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2020 Gelombang 1, Senin (3/2) bertempat di hotel Bukit Indah Lestari Baturaja yang berlangsung selama 3 hari (3-5 Februari 2020) dengan Instruktur Nasional,  Deki Zulkarnain,  SST.

Menurut Budiriyanto, saat ini survei sosial ekonomi nasional (Susenas) merupakan sandaran utama pemenuhan kebutuhan pemerintah dalam mengimplementasikan pembangunan nasional agar sejalan dengan rencana pembangunan jangka menengah nasional (RPJMN) 2020-2024 dan tujuan pembangunan internasional atau tujuan pembangunan berkelanjutan (TPB)/SDGs).

Selanjutnya, dalam rangka mewujudkan One Data, BPS bersama dengan Kemenkes melakukan intergrasi Susenas dan Studi Status Gizi Indonesia (SSGI). Pengumpulan data Susenas Maret 2020 akan dilanjutkan dengan pelaksanaan pengukuran status gizi pada bulan April 2020. Dengan demikian, rumah tangga sampel terpilih pada pengumpulan data Susenas Maret 2020 akan dikunjungi kembali oleh petugas SSGI pada bulan April 2020. Pada pelaksana integrasi Susenas dan SSGI, kepala seksi statistik sosial BPS kabupaten/kota akan berperan aktif sebagai koordinator penyerahan Blok I-IV Susenas Kepada Petugas SSGI.
 
Integrasi Susenas dan SSGI tentu berdampak pada kuesioner yang digunakan dalam Susenas Maret 2020. Pertanyaan terkait kesehatan yang terdapat dalam Susenas Maret 2020 menjadi lebih rinci.
 
Indikator-indikator yang dilahirkan oleh BPS melalui susenas meliputi berbagai aspek sosial-ekonomi seperti kependudukan, pendidikan, kesehatan, kemiskinan dan lain sebagainya. Contoh data-data strategis yang dihasilkan susenas adalah seperti angka kemiskinan, Indeks Pembangunan Manusia, Angka Partisipasi Sekolah, dan banyak lagi indikator sosial ekonomi lainnya.

Menurut Budiriyanto, data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) mempunyai peran yang cukup penting dalam perencanaan pembangunan. Salah satunya untuk mengukur tingkat kemiskinan berdasarkan garis kemiskinan (GK) yang terdiri dari dua komponen, yaitu Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Non-Makanan (GKNM). Garis kemiskinan makanan (GKM) merupakan nilai pengeluaran kebutuhan minimum makanan yang disetarakan dengan 2.100 kilokalori perkapita per hari. Garis kemiskinan non-makanan (GKNM) adalah kebutuhan minimum untuk perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan. Garis Kemiskinan (GK) merupakan penjumlahan dari GKM dan GKNM.  Penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan dibawah GK dikategorikan sebagai penduduk miskin.

Berdasarkan pendekatan kebutuhan dasar, ada 3 indikator kemiskinan yang digunakan. Pertama, Head Count Index (HCI-P0), yaitu persentase penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan (GK).
Kedua, Poverty Gap Index atau Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) yang merupakan rata-rata kesenjangan pengeluaran masing-masing penduduk miskin terhadap garis kemiskinan. Semakin tinggi nilai indeks, semakin jauh rata-rata pengeluaran penduduk dari garis kemiskinan.
Ketiga, Poverty Severity Index atau Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) yang memberikan gambaran mengenai penyebaran pengeluaran di antara penduduk miskin.
Semakin tinggi nilai indeks, semakin tinggi ketimpangan pengeluaran di antara penduduk miskin.

Pada kesempatan ini, Budiriyanto mengharapkan rumah tangga yang dikunjungi petugas survei dapat menerima dengan baik dan memberikan jawaban dengan sebenar-benarnya sesuai dengan kondisi yang ada di rumah tangganya.

Adapun jenis data yang dikumpulkan mencakup keterangan demografi, keterangan Nomor Induk Kependudukan, keterangan migrasi, akta kelahiran, dan pendidikan, keterangan korban kejahatan, teknologi informasi, komunikasi, dan kepemilikan tabungan, keterangan ketenagakerjaan, keterangan gangguan fungsional, keterangan keluhan kesehatan, berobat jalan,  dan rawat inap,keterangan pemanfaatan jaminan kesehatan, penolong persalinan, keluarga berencana, akses  terhadap makanan, keterangan perumahan, keterangan perlindungan sosial, akses terhadap layanan keuangan, keterangan kepemilikan barang, serta keterangan sumber penghasilan rumah tangga.

Sementara untuk konsumsi/pengeluaran rumah tangga data yang dikumpulkan dalam daftar mencakup keterangan tentang kuantitas dan nilai konsumsi/pengeluaran makanan, minuman, dan rokok seminggu terakhir, keterangan tentang pengeluaran untuk barang-barang bukan makanan selama sebulan dan setahun terakhir, keterangan rekapitulasi pengeluaran, serta keterangan tentang pendapatan, penerimaan, dan pengeluaran bukan konsumsi selama setahun terakhir.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.