Banner

Banner
Pemkab OKU

Gempa Lombok, Warga Masih Trauma Pulang ke Rumah


baturajaradio.com - Gempa di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), menyisakan trauma. Warga belum berani berlama-lama di dalam rumah. 

Perasaan takut seperti itu dirasakan Haeriah (65), warga Kelurahan Cakranegara Barat, Kecamatan Cakranegara, Mataram. Ia mengaku memilih meninggalkan rumahnya dan ikut bergabung dengan warga lainnya dalam satu kemah pengungsian daripada harus tinggal di dalam rumah.

"Saya takut, saya nggak berani masuk rumah. Setiap kali mau masuk, pas sudah di depan pintu, saya balik lagi, takut, teringat gempa," kata Haeriah kepada detikcom, Sabtu (11/8/2018).



Meskipun bangunan rumahnya tak mengalami kerusakan akibat gempa, Haeriah dan lima anggota keluarganya memilih mengungsi dan tidur di tenda pengungsian.

Tingginya jumlah pengungsi korban gempa dan banyaknya warga yang memilih tidur di tenda membuat kebutuhan akan tenda ikut meningkat. Harga terpal dirasakan tidak wajar, berbeda dengan sebelum gempa melanda Lombok.

"Kemarin saya mau beli terpal, sulit sekali dapat. Terus saya cari di pertokoan Pasar Cakranegara, harganya naik tiga kali lipat, ndak jadi saya beli, mahal sekali harganya," ungkap Haqqul, warga Cakranegara,



Gempa Lombok, Warga Masih Trauma Pulang ke RumahTenda pengungsian warga di Lombok. (Harianto Nukman/detikcom)


Karena itu, Haqqul urung mendirikan tenda. Dia dan keluarganya pun menumpang tidur di tepi teras rumah tetangganya.

Keluhan mengenai sulitnya mendapatkan terpal serta tingginya harga itu juga diungkapkan salah seorang anggota pramuwisata NTB, Rudy. Keadaan tersebut diketahuinya saat akan membeli banyak terpal untuk disumbangkan kepada warga korban gempa di Kabupaten Lombok Utara (KLU).

"Saya heran, kenapa sulit sekali dapat terpal. Keliling saya cari di Mataram ini. Harganya juga masyaallah tinggi sekali. Pokoknya beda dari harga biasanya. Ya, terpaksa saja saya beli karena butuh mau disumbangkan untuk warga KLU," ungkapnya.



Salah satu relawan untuk korban gempa Lombok, Satria, merasakan hal yang sama. Satria memerinci harga terpal, yang kenaikannya signifikan.

"Harga terpal saat pengungsi sedang butuh ukuran 4x6 meter biasanya Rp 150 ribu menjadi Rp 450 ribu. Ukuran 6x8 meter beli biasa Rp 300 ribu jadi Rp 800 ribu. Ukuran 8x12 meter biasa Rp 700 ribu naik menjadi Rp 1,1 juta. Ini kan bencana lagi namanya," keluhnya. (https://news.detik.com)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.