Banner

Banner
Pemkab OKU

Malaysia Belajar dari Reformasi Indonesia

Presiden ketiga RI BJ Habibie (kiri) bersalaman dengan mantan Wakil Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim seusai melakukan pertemuan di Jakarta, Ahad (20/5).baturajaradio.com -Mantan wakil perdana menteri Malaysia Anwar Ibrahim menyambangi kediaman presiden ketiga Indonesia BJ Habibie di Jalan Patra Kuningan XIII Nomor 3, Jakarta, Ahad (20/5). Berdasarkan pantauan Republika, Anwar tiba tepat pukul 13.00 WIB menggunakan mobil bernomor polisi B 402 NS.
Begitu turun dari kendaraan, Anwar melempar senyum ramah kepada awak media yang hendak mengabadikan momen tersebut. Anwar menjelaskan, kedatangannya ke Jakarta atas undangan Habibie. Kedatangan itu pun bertepatan dengan momen 20 tahun Reformasi Indonesia yang diperingati setiap 21 Mei 1998.

Selain transisi kekuasaan, penguatan institusi demokrasi pun dimulai pada era pemerintahan Presiden Habibie saat itu. "Sementara, 2 September 1998 dikenang masyarakat Malaysia sebagai dimulainya rezim Barisan Nasional yang berakhir dua dekade kemudian, yaitu 9 Mei 2018," kata Anwar.

Suami dari Wakil Perdana Menteri Malaysia Wan Azizah Wan Ismail itu pun yakin pertemuan dengan Habibie akan meningkatkan hubungan kedua negara. Tidak hanya itu, pertemuan juga dapat memperkuat agenda reformasi Malaysia. "Kita banyak menimba pengalaman dari Indonesia," kata Anwar setelah pertemuan yang berlangsung dua jam itu.

Secara khusus, pria 70 tahun itu memuji proses transisi kekuasaan Indonesia dari Orde Baru di bawah kepemimpinan almarhum Presiden Soeharto ke Orde Reformasi di bawah kepemimpinan Presiden Habibie. Dalam waktu yang singkat, Habibie dinilai mampu menghasilkan perubahan-perubahan besar.

Saat memberikan keterangan pers, Habibie mengucapkan rasa syukur atas kondisi Anwar yang sehat walafiat. Habibie memperkenalkan diri sebagai abang alias kakak laki-laki Anwar. Selama ini, menurut dia, Anwar mengalami ujian berat sebagai politikus karena ditahan di penjara serta sakit yang diderita.

Habibie lantas menjelaskan, saat ini semua negara sedang menghadapi globalisasi. Kondisi itu memaksa mereka bekerja sama. Menurut dia, suatu negara tidak hanya memperjuangkan kepentingan ekonomi dan budaya semata, tetapi juga ada perjuangan yang harus disinergikan, yaitu budaya, agama, serta iptek.

Anwar merupakan tokoh politik senior yang sempat menjadi lawan politik PM Malaysia Mahathir Mohamad. Mereka berselisih pada periode krisis Asia 1998 hingga kemudian Anwar yang saat itu menjabat sebagai wakil PM sekaligus menteri keuangan dicopot dari jabatannya. Ia kemudian dipenjarakan oleh Mahathir.

Dalam Pemilihan Umum 2018, Anwar yang dibebaskan pada 16 Mei lalu setelah mendapatkan pengampunan dari raja Malaysia justru berkoalisi dengan Mahathir yang kembali dilantik sebagai PM pada usia 92 tahun. Mahathir akan menyerahkan tampuk kepemimpinan kepada Anwar dalam dua tahun ke depan.

Selain bertemu Habibie, Anwar juga menemui Wakil Presiden RI Jusuf Kalla di kediamannya. Keduanya membicarakan KTT Luar Biasa OKI terkait Palestina yang baru diikuti JK dan isu terkini Malaysia. Setelah itu, Anwar mendatangi kantor pusat Pengurus Besar Nahdlatul Ulama dan menemui Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj membahas isu kebangsaan dan keagamaan. (http://nasional.republika.co.id)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.