Pasang Iklan Berbayar Disini

Pasang Iklan Berbayar Disini

Lunturnya Pencipta dan Pengguna Batik


Baturajadio.com
- Indonesia adalah negara yang kaya akan pulau dan sumber daya alam. Menurut Pembakuan Nama Rupa Bumi unsur Pulau sudah dimulai sejak tahun 2005 hingga saat ini dengan jumlah pulau indonesia yang sudah dilaporkan ke PBB melalui sidang United Nations Group of Experts on Geographical Names (UNGEGN) sejumlah 16.671 Pulau pada tahun 2019. Banyaknya pulau adalah penyebab terbesar beragamnya suku dan agama. Dan juga menjadi penyebab banyaknya kebudayaan

Kebudaayan adalah suatu kebiasaan yang melekat dengan masyarakat pada suatu daerah. Setiap daerah pasti memiliki kebudayaan mereka yang khas dan berbeda-beda. Kebudayaan muncul karena adanya suatu kebiasaan yang terus menerus dilakukan dari generasi ke generasi dalam suatu daerah. Dan juga muncul karena pada zaman dahulu banyaknya penduduk pada suatu daerah yang lebih suka menetap. Keberagaman budaya kita ini patut disyukuri dan kita banggakan. 

Namun karena berkembangnya zaman ada beberapa budaya yang perlahan-lahan menghilang atau luntur. Salah satu faktornya adalah karena menurunnya minat para pemuda Indonesia dalam mempelajari suatu budaya. Bahkan mirisnya malah banyak warga negara asing yang lebih berminat atau tertarik dengan budaya yang ada di Indonesia. Padahal dengan belajar suatu budaya secara tidak langsung sudah melestarikan budaya tersebut. Bukan berarti kita melarang warga negara asing dalam belajar budaya kita. Justru kita patutnya bangga karena budaya kita sudah go international. Salah satu diantaranya adalah batik.

Sudah 14 tahun sejak batik ditetapkan sebagai warisan budaya Indonesia. UNESCO secara resmi menetapkan batik sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and the Intangible Heritage of Humanity) milik Indonesia, sejak 2 Oktober 2009. Bahkan semenjak ditetapkannya Hari Batik Nasional pada 2 Oktober, makin banyak orang yang menggunakan batik aneka macam. Terlihat dari beberapa perusahaan menetapkan batik sebagai seragam pada hari tertentu. Kini juga para pemuda lebih percaya diri menggunakan batik yang dimana sebelumnya batik dianggap sebagai 'pakaian orang tua'. Dan batik sendiri bisa dibuat dengan berbagai cara , seperti batik menulis, batik cap, dan batik printing. Tapi harapannya tidak ada diskriminasi kepada para pembatik cap dan printing. Memang kita harus menjaga tradisi, tetapi bukan berarti yang lain bernilai rendah.


Berdasarkan data Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik Indonesia (APPBI) yang dilansir dari kompas.id pada 2021, jumlah pembatik di Indonesia turun 80 persen selama pandemi Covid-19. Sebelum pandemi, jumlah pembatik mencapai 131.568 orang dan kini tinggal sekitar 26.000 orang. Adapun salah satu penyebabnya karena pandemi yang berdampak membuat penjualan batik menurun dan membuat para perajin batik beralih profesi demi bertahan hidup. Menurunnya para produsen batik secara tidak langsung mengancam keberadaan batik. Banyaknya pemuda yang lebih minat soal 'sukses secara instan', menjadi penyebab para pemuda lebih memilih profesi yang mudah dan sukses. 

Perlu diingat bahwa batik bukan hanya perlu digalakkan dalam penggunaannya. Tetapi tak kalah esensial mendorong para pemuda untuk melestarikan batik dengan menjadi produsen atau pengguna batik. Justru harapannya dengan para pemuda yang menjadi produsen batik mampu membuat inovasi baru yang mampu meningkatkan ketertarikan para pemuda dalam batik. Ini juga tak hanya didukung oleh para generasi tua tetapi baiknya para pemuda juga saling memengaruhi sesamanya. Justru dengan fenomena ini para pemuda bisa memanfaatkannya dengan menjadi produsen batik. Tak hanya harus menjadi produsen atau pengguna tetapi juga bisa menjadi promotor yang mampu memperkenalkan batik secara meluas baik di masyarakat maupun luar melalui sosial meida. Selain mampu membantu perekonomian, juga bisa melestarikan batik secara tidak langsung. Kita sebagai pemuda Indonesia layaknya mau melestarikan dan bangga akan budaya kita. Harusnya kita prihatin karena malah lebih banyak warga negara asing yang lebih tertarik mempelajari budaya di Indonesia. Jangan sampai budaya kita lestari karena bergantung kepada warga negara asing. Jangan sampai budaya kita punah atau lebih buruknya diklaim oleh negara lain.

(https://www.kompasiana.com/michaelchristovaldodeandra4546/63f436664addee4c94465532/lunturnya-pencipta-dan-pengguna-batik)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.