Melihat Budaya 'Mengantar Petulung' yang Terancam Hilang di OKU Selatan

Melihat Budaya 'Mengantar Petulung' yang Terancam Hilang di OKU Selatanbaturajaradio.com - Mengenal budaya 'Mengantar Petulung' yang terancam hilang di Bumi Serasan Seandanan atau wilayah Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan (OKUS).

Petulung dalam artian memberikan bantuan dengan saling bahu-bahu oleh penduduk Desa atau perkampungan pada pemilih sedekah sebagai wujud kekompakan menjelang hari H saat acara resepsi pernikahan atau pasca terkena musibah meninggal dunia.


Biasanya tak hanya dari dalam Desa juga dilakukan oleh keluarga atau kerabat yang berasal luar Desa ataupun Desa tetangga terkait Budaya mengantar petulung ini. 


Adapun, Petulung biasanya berupa beras, kelapa, gula atau ayam yang dimasukan ke dalam baskom ukuran mini serta ditutup dan diikat dengan kain taplak meja agar tidak diketahui satu sama lainnya guna untuk menghindari kesenjangan sosial.

Normalnya, semakin dekat pemilik hajatan resepsi pernikahan atau yang terkena musibah nilai Petulung yang diberikan semakin tinggi.


"Biasanya, semakin dekat dengan keluarga yang akan melaksanakan resepsi, maka biasanya semakin besar pula petulung yang diberikan,"ujar Pemerhati Budaya Bahdozen Hanan, SPd, MSi dibincangi Sripoku.com, Minggu (28/2).


Dengan demikian, warga yang mengantar petulung pada umumnya dilakukan oleh para Ibu Rumah Tangga (IRT) suatu Desa yang kemudian setelahnya dilanjutkan dengan membantu berbagai persiapan hajatan dari tuan rumah.


Setelah pekerjaan pemilik hajatan rampung, saat selesai makan siang, baskom yang dikumpulkan oleh warga setempat dan telah kosong pemilik hajatan memberikan imbalan dari tuan rumah berupa sepotong wajik, beberapa roti dan dan sepotong kue Bolu.


Akan tetapi, seiring dengan perkembangan zaman Budaya Mengantar Petulung di OKU Selatan umumnya terjadi di Kecamatan Muaradua sudah berkurang. yang digantikan dengan memberikan bantuan berupa uang yang dibungkus amplop yang dinilai lebih praktis.


"Seiring dengan perkembangan zaman, di kota Muaradua sudah berkurang tradisi seperti ini. Masyarakat biasanya memberikan bantuan kepada yang melaksanakan resepsi dalam bentuk amplop uang. Karena dinilai lebih praktis,"ujar Bahdozen.


Terkecuali di Kecamatan yang ada di luar kota Muaradua, budaya mengantar petulung ini masih bertahan hingga sekarang.

Termasuk gotong royong memasak sebelum pelaksanaan resepsi pernikahan.


Selain itu,di persedekahan resepsi pernikahan budaya gotong royong masih cukup kental, laki-laki bertugas menyembelih dan membersihkan hewan dan membuat bangsal sedangkan ibu-ibu membantu membuat bumbu, membuat kue sedangkan bujang dan gadis mempersiapkan janur, membuat huruf dan hiasan.


"Banyak nilai positif yang dapat diambil dari budaya “mengantar petulung”  terutama dalam hal kegotong royongan, memupuk pergaulan sosial dimasyarakat,"ujarnya.

Karena lanjutnya, Saat mengantarkan petulung ini, biasanya kaum ibu-ibu akan turut membantu menyiapkan bumbu masakan, membuat kue serta kegiatan berkomunikasi antar keluarga,"pungkas Bahdozen.



(https://sumsel.tribunnews.com/2021/02/28/melihat-budaya-mengantar-petulung-yang-terancam-hilang-di-oku-selatan)






Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.