Genjot Ekspor, Kementan Gandeng 14 Instansi di Papua Barat

Sayuran dan buah produk hortikultura (ilustrasi)baturajaradio.com -Kementerian Pertanian (Kementan) bersama dengan 14 instansi pusat dan daerah melakukan kerjasama untuk mendorong ekspor komoditas pertanian asal Papua Barat. 

Hal tersebut dilakukan setelah diskusi sinergitas yang diselenggarakan Badan Karantina Pertanian (Barantan) di Sorong.

Ke-14 instansi tersebut antara lain Pemkab Sorong, Pemkot Sorong, Kadistan Pemprov Papua Barat, Kadistan Kaimana, Bank Indonesia, BPS Prov Papua Barat, Polbangtan Manokwari, BPPT Manokwari, Bea Cukai Manokwari, KSOP Sorong, BC Sorong, Ka Bandara DEO, Pelaku Usaha Agribisnis Kadistan Tambrauw termasuk Karantina Sorong serta Manokwari.

Kepala Barantan Kementan Ali Jamil mengatakan, strategi dari kolaborasi tersebut perlu dilakukan guna mendongkrak komoditad pertanian unggulan yang ada. Menurut catatan Kementan pada 2018 dari sistem otomasi IQFAST Barantan, terdapat beberapa komoditas unggulan dari Kabupaten Sorong yang bisa saja menjadi komoditas ekspor dari wilayah lain. Di antaranya biji pala, oil palm kernel, bunga pala, minyak sawit mentah, kopra, durian, alpukat, pisang, sarang semut, dan buah merah.

“Kebanyakan komoditas tersebut dilalulintaskan ke Jakarta dan Surabaya, namun tercatat sebagai komoditas ekspor lewat daerah lain. Inilah yang harus kita selesaikan bersama, kolaborasi pusat dan daerah,” kata Ali dalam keterangan pers yang diterima Republika, Jumat (19/4).

Untuk mendukung upaya pemerintah Kabupaten Sorong dalam peningkatan ekspor tersebut, Ali Jamil juga memberikan aplikasi bernama Indonesian Map of Agricultural Commodities Exports (I-MACE) kepada Pemerintah Kabupaten Sorong. Tujuan aplikasi tersebut adalah memudahkan pemerintah daerah dalam memantau potensi pertanian yang ada di daerahnya agar dapat dikembangkan lebih baik.

"Ini semua berisi data potensi pertanian, update secara riil time termasuk keterangan asal daerah dan tujuan negara ekspornya," kata Jamil.

Dalam kerjasama tersebut, Jamil juga menyerahkan Sertifikat Kesehatan Tumbuhan Antar Area (KT12) kepada salah satu pelaku usaha bernama Gunawan. Dari dialog dengan para pelaku usaha didapat informasi akan tingginya permintaan terhadap komoditas khas Papua Barat. Salah satunya, sari buah merah yang tidak saja diminati pasar domestik tapi juga pasar global seperti Korea Selatan dan Amerika Serikat.

Menurut Gunawan, pihaknya telah mengirimkan minyak buah merah sebanyak 1 ton tujuan Jakarta sebagai komoditas wajib periksa Karantina. Hal itu dilaporkannya ke petugas Karantina Pertanian di Wilker Bandar Udara Sorong. Pengusaha asal Sorong Timur tersebut juga mengungkapkan bahwa peluang buah merah untuk diekspor sangat terbuka.

Buktinya, kata dia, saat ini pihaknya tengah menjajaki pasar di Korea Selatan dengan volume sekitar 20 ribu liter. Menurutnya harga buah merah yang sudah diekstrak menjadi minyak sebesar Rp 400 ribu per liter, sedangkan untuk pasar ekspor berkisar 100 dolar AS per liter atau senilai Rp 1,4 juta. 

“Ini sumber yang kaya dan cukup menjanjikan, terlebih lagi jika dapat diekspor langsung dari Sorong,” kata Gunawan.

Sementara itu Kepala Karantina Pertanian Sorong Wayan Kertanegara mengatakan, berdasarkan catatan data otomasi IQFAST di wilayah kerjanya selama Januari hingga April 2019, lalulintas buah merah dari Sorong sebanyak 3,2 ton dalam bentuk buah dan 13 liter dalam bentuk ekstrak. Untuk itu, dia akan segera melakukan koordinasi dengan instansi terkait agar komoditas tersebut dapat langsung diekspor dari Sorong.

Bupati Sorong Johny Kamuru mengapresiasi upaya Kementan lewat Barantan dan akan menindaklanjutinya dengan melakukan koordinasi internal dan eksternal. Terlebih, kata dia, Sorong merupakan salah satu Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Oleh sebab itu menurut dia, dukungan pemerintah pusat tentu akan dapat digunakan mempercepat terwujudnya eksportasi komoditas pertanian asal Papua Barat langsung dari Sorong. (https://republika.co.id)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.