Banner

Banner
Pemkab OKU

Harga minyak relatif stabil di tengah eskalasi perang dagang

Harga minyak relatif stabil di tengah eskalasi perang dagangbaturajaradio.com - Harga minyak relatif stabil pada akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB), karena meningkatnya perang perdagangan antara Amerika Serikat dan China membebani ekspektasi permintaan sehari setelah harga melonjak akibat penarikan besar dalam persediaan minyak mentah AS.

Minyak mentah jenis Brent untuk pengiriman Oktober turun tipis lima sen AS menjadi menetap di 74,73 dolar AS per barel di London ICE Futures Exchange. Patokan global ini mencapai 75 dolar AS selama sesi perdagangan hari sebelumnya, tingkat tertinggi sejak 31 Juli 2018.

Sementara itu, minyak mentah AS, West Texas Intermediate (WTI) untuk penyerahan Oktober sedikit melemah sebesar tiga sen AS menjadi ditutup pada 67,83 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange.

Aktivitas opsi menunjukkan beberapa pedagang menjaga kemungkinan penurunan tajam dalam harga minyak mentah AS.

"Pasar sedang mencoba menyeimbangkan kekhawatiran tentang penurunan pertumbuhan permintaan global dan berapa banyak tambahan minyak oleh Saudi dan Rusia," kata Gene McGillian, direktur riset pasar pada Tradition Energy di Stamford, Connecticut, dikutip dari Reuters.

Namun, ia mengatakan, harga mendapat dukungan dari penarikan yang lebih besar dari perkiraan dalam persediaan minyak mentahnya AS, yang dilaporkan Badan Informasi Energi (EIA) pada Rabu (23/8).

"Ada gambaran fundamental yang lebih baik dari setahun lalu," katanya.

Sengketa perdagangan AS-China semakin mendalam, dengan pengenaan tarif 25 persen atas barang-barang impor senilai 16 miliar dolar AS satu sama lainnya. Dua ekonomi terbesar dunia itu telah memberlakukan tarif pada gabungan 100 miliar dolar AS produk impor sejak awal Juli, dan Washington mengadakan dengar pendapat tentang bea masuk yang diusulkan senilai 200 miliar dolar AS lagi atas barang impor dari China. Chiina hampir pasti akan merespon.

Perang dagang diperkirakan akan mencukur 0,3-0,5 persentase poin dari pertumbuhan PDB riil China pada 2019, kata Moody`s Investor Service.

Ia menambahkan akan memangkas 0,25 persentase poin dari proyeksi pertumbuhan PDB riil AS menjadi 2,3 persen pada 2019.

Sengketa ini telah menyebabkan para analis memangkas perkiraan untuk konsumsi energi, meskipun beberapa pasar masih ketat.

Persediaan minyak mentah komersial AS turun 5,8 juta barel pekan lalu, EIA mengatakan pada Rabu (23/8), lebih dari tiga kali perkiraan.

"Laporan minggu ini bullish untuk minyak mentah," kata analis minyak Societe Generale, Michael Wittner. "Stok minyak mentah berkurang karena impor minyak mentah lebih rendah dan operasional kilang minyak mentah mendekati rekornya."

EIA juga mengatakan produksi minyak AS meningkat, mencapai 11 juta barel per hari pekan lalu.

Itu berarti tiga produsen teratas dunia yakni Rusia, Amerika Serikat, dan Arab Saudi, sekarang semuanya memproduksi sekitar 11 juta barel per hari, memenuhi sepertiga dari permintaan global.(https://www.antaranews.com)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.