Header Ads

Waspada Cuaca Esktrem, Banjir, Longsor, dan Crane

Baturajaradio.comBadan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) kembali mengimbau masyarakat di berbagai daerah untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap cuaca ekstrem seiring peningkatan intensitas hujan. Sebab, BMKG memproyeksikan curah hujan yang mulai dirasakan sejak Agustus lalu akan semakin meningkat menjelang pengujung tahun.

"Tidak ada kata terlambat untuk mengingatkan masyarakat terkait intensitas hujan yang trennya mulai meningkat,\" kata Kepala Bagian Hubungan Masyarakat BMKG Hary Tirto Djatmiko di Jakarta, Ahad (19/11).

Menurut dia, masyarakat yang kerap melakukan aktivitas di luar rumah, baik pejalan kaki maupun pengguna kendaraan bermotor, harus lebih berhati-hati. Sebab, jalanan menjadi lebih licin saat hujan, sedangkan pengguna kendaraan bermotor juga dihadapkan pada jarak pandang yang semakin pendek.

Tidak hanya itu, lanjut Hary, dengan angin yang sangat kencang, masyarakat harus mewaspadai terpaan angin terhadap pohon atau bangunan semipermanen seperti baliho, papan reklame, dan crane. "Bangunan seperti ini bisa saja roboh ketika ada angin yang sangat kencang menerpanya," ujarnya.

Untuk meminimalkan banjir, Hary mengimbau agar masyarakat menjaga saluran air tetap baik. Jangan sampai ada sampah atau barang apa pun yang menghambat air mengalir. Sebab, sumbatan sekecil apa pun bisa berakibat pada banjir yang lebih besar.

Hary juga meminta masyarakat mewaspadai petir. Pengecekan instalasi listrik menjadi penting agar kondisi di dalam rumah atau perkantoran lebih terjaga ketika ada sambaran petir.

Untuk awal pekan ini, BMKG memperkirakan beberapa wilayah di Indonesia diprediksi akan mengalami hujan lebat, angin kencang, hingga hujan badai atau thunderstorm hingga Selasa (21/11). Saat ini, Indonesia sudah mulai memasuki awal musim hujan dengan persentase sekitar 76 persen.

Kepala Pusat Data Informasi dan Hubungan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho menjelaskan, pihaknya telah melakukan pemetaan untuk daerah-daerah yang berpotensi mengalami bencana banjir dan longsor. Sebab, menurut dia, kedua bencana tersebut tidak baru-baru ini saja terjadi, tapi terjadi hampir setiap tahunnya di daerah.

Menurut dia, BNPB juga memiliki peta rawan bencana banjir dan longsor. Peta tersebut juga telah dibagikan kepada pemerintah daerah. Masyarakat yang ingin mengetahui bisa mengakses informasi ini di laman BNPB. \"Dengan mengakses dan mendapatkan informasi lebih awal, masyarakat bisa mempersiapkan diri dan tahu apakah di daerah mereka kemungkinan terjadi bencana atau tidak,\" ujar Sutopo.

Sutopo memastikan, BNPB telah memiliki tata cara penanganan saat banjir dan longsor terjadi. Fokus utama tentu adalah pencarian dan penyelamatan korban. Setelah itu, BNPB juga akan melakukan upaya rehabilitasi, rekonstruksi, dan relokasi setelah melakukan perhitungan kerugian dan kerusakan pascabencana.

Warga hati-hati
Seiring dengan musim hujan, banjir dilaporkan telah menerjang berbagai daerah sejak awal bulan ini. Daerah-daerah itu tersebar di Aceh, Sumatra Utara, Riau, Jawa Barat, Jawa Tengah, hingga Kalimantan. Sejumlah pemerintah daerah, termasuk DKI Jakarta, juga telah menggelar apel kesiapan menghadapi banjir dan longsor.

BPBD Kota Malang mengingatkan warga untuk berhati-hati saat berada di sekitar daerah aliran sungai dan tebing bibir sungai. Kepala BPBD Kota Malang Hartono menyatakan hal itu setelah hujan deras berlangsung sejak Jumat (17/11) hingga Sabtu (18/11) di sejumlah wilayah.

"Meskipun tidak ada korban jiwa dan kita tentu berharap tidak ada, tetapi itu harus diwaspadai dengan sungguh-sungguh, utamanya para warga yang berhuni di lokasi rawan," ujar Hartono di Malang, Jawa Timur, Ahad (19/11).

Peristiwa terbaru pada Sabtu (18/11), terjadi longsor di plengsenganSungai Brantas akibat banjir bandang. Longsor ini terjadi di belakang Rumah Mbah Sumar (97 tahun) sepanjang kurang lebih 12 meter dan terus bertambah. Longsor yang terjadi di Jalan Permadi 32, RT 10, RW 04, Kelurahan Polehan ini tidak memakan korban jiwa.

Sementara itu, setelah terpapar air bandang Sungai Brantas, warga di kampung warna-warni Jodipan didukung tim tanggap darurat bencana gabungan BPBD dan DPUPR telah bersama-sama bekerja bakti membersihkan endapan lumpur. Warga sekitar lokasi terus menjaga kewaspadaan dan membangun sikap ramah lingkungan dengan bertindak cepat membersihkan lumpur.

Di Kudus, Jawa Tengah, unsur TNI, santri, dan warga Kecamatan Bae mengadakan kerja bakti membersihkan aliran Sungai Dawe dari tumpukan sampah untuk mengantisipasi banjir di daerah itu, Ahad (19/11). Kerja bakti membersihkan sungai tersebut dilakukan tepat di dekat jembatan Sungai Dawe yang berada di Desa Ngembalrejo, Kecamatan Bae, Kudus.

Ratusan orang dikerahkan ke aliran Sungai Dawe, termasuk dari jajaran Komando Distrik Militer (Kodim) 0722/Kudus, untuk mengambil sampah yang berada di aliran sungai dan di setiap lorong jembatan.

"Karena konstruksi jembatannya merupakan model lama yang masih ada penyangganya, sehingga sangat berpotensi sampah menumpuk di bawah jembatan dan berpotensi mengakibatkan banjir," kata Camat Bae Mintoro AP. (nasional.republika.co.id)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.