Harga Gabah Naik, Petani OKU Timur Tetap Dihantui Hama dan Ancaman Kemarau
baturajaradio.com - Kenaikan harga gabah yang kini berada di kisaran Rp6.500 hingga Rp6.700 per kilogram membawa optimisme baru bagi petani di Kabupaten OKU Timur.
Setelah beberapa musim menghadapi harga jual yang tidak menentu serta biaya produksi yang terus meningkat, kondisi tersebut menjadi peluang bagi petani untuk memperoleh pendapatan yang lebih baik.
Meski demikian, tingginya harga gabah belum sepenuhnya menghilangkan berbagai persoalan yang dihadapi petani.
Serangan hama dan potensi musim kemarau panjang masih menjadi ancaman serius yang dapat memengaruhi hasil produksi pertanian.
Ratno, petani asal Desa Sukamulya, Kecamatan Semendawai Suku III, mengatakan harga gabah saat ini memang cukup menguntungkan dibandingkan musim-musim sebelumnya. Namun, keuntungan tersebut tidak sepenuhnya dirasakan karena lahan pertaniannya diserang hama tikus dan sundep.
Menurutnya, dalam kondisi normal satu hamparan sawah dapat menghasilkan sekitar 50 karung gabah. Akan tetapi, ketika serangan hama meningkat, hasil panen bisa turun hingga hanya sekitar 30 karung.
“Harga gabah memang sedang bagus dan tentu membuat petani senang. Namun serangan tikus dan sundep membuat produksi menurun cukup besar,” ujarnya.
Ratno menyebutkan kerugian akibat hama dapat mencapai 40 hingga 50 persen dari total hasil panen. Kondisi itu membuat kenaikan harga gabah belum mampu menutupi sepenuhnya penurunan produksi yang terjadi di lapangan.
Hal senada disampaikan Jodi Ariabima, petani dari Kelurahan Bukitsari, Kecamatan Martapura. Ia menilai harga gabah yang tinggi memberikan semangat baru bagi petani untuk menjalani musim tanam.
Selain itu, ketersediaan pupuk saat ini juga dinilai lebih lancar dibandingkan beberapa waktu lalu.
Namun, menurut Jodi, persoalan utama yang kini dihadapi petani adalah serangan berbagai jenis hama yang semakin sulit dikendalikan.
Selain tikus dan sundep, hama penggerek batang juga banyak ditemukan di area persawahan.
“Harga gabah bagus dan pupuk relatif aman. Tetapi serangan hama semakin menjadi tantangan karena banyak yang seolah sudah kebal terhadap berbagai jenis pestisida,” katanya.
Ia menjelaskan, biaya pembelian pestisida selama ini memang menjadi salah satu komponen pengeluaran terbesar petani.
Yang lebih mengkhawatirkan, efektivitas sejumlah obat pengendali hama dinilai semakin menurun sehingga pengendalian menjadi lebih sulit.
Selain hama, Jodi juga mulai mencemaskan kemungkinan terjadinya musim kemarau berkepanjangan. Menurutnya, sawah tadah hujan sangat bergantung pada curah hujan untuk memenuhi kebutuhan air tanaman.
“Beberapa minggu terakhir hujan hampir tidak turun. Banyak sawah mulai mengering dan petani sudah mulai memompa air ke lahan mereka,” ungkapnya.
Jika kemarau berlangsung lebih lama, petani diperkirakan akan semakin bergantung pada sumur bor untuk menjaga pasokan air. Namun kondisi tersebut juga memunculkan kendala baru karena sebagian besar pompa masih menggunakan bahan bakar minyak yang ketersediaannya tidak selalu mudah diperoleh.
“Kadang Pertalite sulit didapat. Kalau menggunakan Pertamax, biaya operasional menjadi lebih tinggi. Sementara pembelian BBM menggunakan jeriken juga dibatasi,” tambahnya.
Sementara itu, Agus Nugroho, petani asal Kelurahan Veteran Jaya, Kecamatan Martapura, mengaku menjalankan usaha taninya secara mandiri tanpa bergabung dalam kelompok tani.
Seluruh kebutuhan pertaniannya, mulai dari pupuk hingga pestisida, dibuat dan dikelola sendiri.
“Saya tidak tergabung dalam kelompok tani dan selama ini belum pernah menerima bantuan. Pupuk maupun pestisida saya racik sendiri,” ujarnya.
Agus juga mengaku belum pernah mendapatkan pendampingan langsung dari penyuluh pertanian di lahannya.
Karena itu, berbagai pengetahuan dan teknik budidaya yang diterapkan selama ini dipelajari secara mandiri.
Menurut Agus, ancaman kemarau panjang saat ini menjadi perhatian utama karena tanaman padi yang ditanamnya masih berada pada fase awal pertumbuhan dan membutuhkan pasokan air yang cukup.
“Sawah mulai mengering. Jika dalam dua minggu ke depan hujan tidak turun, petani yang tidak memiliki sumur bor akan menghadapi kesulitan. Mereka yang memiliki akses irigasi atau bantuan pompa listrik mungkin masih bisa bertahan, tetapi petani mandiri harus berupaya lebih keras,” tuturnya.
Di tengah tingginya harga gabah yang membawa harapan baru, petani OKU Timur masih harus menghadapi berbagai tantangan di lapangan.
Serangan hama yang sulit dikendalikan serta ancaman kekeringan akibat musim kemarau berpotensi mengurangi hasil panen dan menambah beban biaya produksi.
sumbr : https://okes.disway.id/oku/read/663921/harga-gabah-naik-petani-oku-timur-tetap-dihantui-hama-dan-ancaman-kemarau
Tidak ada komentar