Update Harga Karet di OKU, Meski Membaik tidak Membuat Petani Sumringah Gara-gara Musim Kemarau

 
Update Harga Karet di OKU, Meski Membaik tidak Membuat Petani Sumringah Gara-gara Musim Kemarau



Baturajaradio.com --  Harga karet di OKU dikabarkan membaik. Meski demikian, petani tidak menyambutnya dengan kebangaan teramat sangat karena produksi getah yang menurun.

Suci (27), petani karet di Kecamatan Lubukbatang, prodksi getah karet saat ini sudah jauh menurun. Memasuki musim kemarau ini penurunan getah karet sudah hampir 50 persen dari kondisi normal.

“Kalau sudah memasuki musim kemarau, getah karet menyusut,” kata Suci dengan nada sedih.

Menurut petani karet ini, sebelum kemarau, produksi karet yang disadapnya sekitar tiga kwintal per dua pekan. Namun, baru-baru ini hanya 1,5 kwintal per dua pekan.

Menurut ibu dua anak ini, harga karet di OKU saat ini memang membaik. 

Untuk karet yang diitmbang dua mingguan, harga di tingkat petani berkisar Rp 10.000 hingga Rp 12.500 per kilogram.

Sebelumnya, harga karet di OKU masih di angka Rp 7.500 hingga Rp 8000 per kilogram.
Namun sayangnya, disaat harga naik, produksi getah karet mengalami penurunan yang cukup signifikan.

Penurunan produksi karet ini karena dipengaruhi faktor cuaca yang sudha memasuki muim kemarau.

Keluhan yang sama juga disampaikan Ismail (37), petani karet asal Kecamatan Semidangaji, yang mengatakan getah karet yang disadap sudah mulai menurun.

Menurut ayah dua anak ini, selama musim kemarau ini produksi getah karet sudah berangsur-angsur turun.

Biasanya seiring semakin panjang musim kemarau maka getah akan semakin habis, terlihat daun karet sudah mulai rontok dan diantaranya ada pohon karet yang duannya sudah gundul.

Apabila kondisi pohon karet sudah seperti ini maka aktivitas menyadap juga harus dikurangi bahkan diistirahatkan.

“Padahal saat ini harga getah karet diitingkat petani sudah mulai membaik,” kata Ismail. 
Karet memang menjadi tanaman primadona di Kabupaten  OKU. 

Berdasarkan catatan Sripoku.com, luas arel perkebunan karet alam milik rakyat  yang terdata saja setidaknya  71.807,5 Ha dengan total produksi yang terdata sedikitnya 52.447,47 ton per tahun.

Jumlah ini baru yang terdata saja, sedangkan yang tidak terdata jumlahnya diperkirakan masih banyak.

Sedangkan perkebunan besar milik perusahaan terdata  setidaknya  918,09 Ha dengan total produksi sekitar 1.893,48 ton per tahun.

Perekonomian rakyat Kabupaten yang berjuluk “ Bumi Sebimbing Sekundang” ini memang ditopang dari dua komuditas yakni karet dan sawit.

Komoditas karet memang lebih besar dibandingkan sawit, karena petani bisa membuka kebun sendiri dan bisa langsung menjual sendiri karena banyak tauke karet yang langsung datang ke desa-desa.




(https://palembang.tribunnews.com/2021/06/28/update-harga-karet-di-oku-meski-membaik-tidak-membuat-petani-sumringah-gara-gara-musim-kemarau?page=2)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.