Sumsel Waspadai Ancaman Karhutla, Antisipasi Dini Musim Kemarau Diprediksi Lebih Kering

Sumsel Waspadai Ancaman Karhutla, Antisipasi Dini Musim Kemarau Diprediksi Lebih Kering

baturajaradio.com - Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan melakukan berbagai upaya untuk mengantisipasi sejak dini kemungkinan akan terjadinya kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) menghadapi musim kemarau tahun 2021.

Gubernur Sumsel,  Herman Deru mengatakan wilayah Sumsel banyak memiliki lahan gambut yang mudah terbakar, ditambah lagi  prediksi BMKG  tahun ini musim kemarau akan lebih kering melanda Sumsel. Sehingga dibutuhkan kesiapan untuk antisipasi kebakaran utamanya  di lahan gambut.

 
"Tentu kita akan terus mencari solusi, bagaimana agar lahan gambut tidak mudah terbakar," katanya,  Kamis (11/3/2021).


Dalam upaya antiasipasi karhutla tersebut, Herman Deru mengaku setidaknya Pemerintah  Provinsi Sumsel telah menyiapkan tujuh strategi agar Sumsel terbebas dari Karhutbunla tahun 2021. Meliputi melakukan sinkronisasi satuan tugas provinsi dengan kabupaten.


Membagi habis tugas pengendalian kebakaran hutan, kebun dan lahan dengan melibatkan semua stakeholder baik provinsi maupun kabupaten/kota. Selanjutnya, melakukan optimalisasi peralatan produksi yang ada pada kelompok tani untuk membantu pemadam kebakaran.


"Kita juga akan memperkuat sarana dan prasaraan pemadam, serta personil terlatih pada regu pemadam kebakaran perusahaan perkebunan, maupun hutan tanaman industri," jelasnya. 


Pemerintah Provinsi Sumsel juga segera mengaktifasi posko-posko kebakaran yang ada di perusahaan, masyarakat peduli api, kelompok tani peduli api dan lain sebagainya. Di samping pemanfaatan dana desa untuk pengendalian hutan, kebun dan lahan.


Selain itu, saat ini Bumi Sriwijaya juga telah memiliki embung Konservasi sebagai salah satu laboratorium yang bisa dijadikan lokasi riset untuk mengetahui kelembaban tanah yang juga termasuk sebagai upaya pencegahan terjadinya karhutla.


Menurutnya, Embung Konservasi di Kebun Raya Sriwijaya dibangun di atas lahan rawa seluas 100 hektar dengan banyak fungsi, seperti pusat penelitian lahan basah dan sebagai tempat pendidikan, pelatihan ataupun magang. 


"Langkah yang harus kita lakukan adalah dengan mencegah tidak berkibarnya api dari yang paling kecil hingga besar. Langkah progresif telah menunjukkan hasil.  Pada tahun 2020 nyaris dikatakan Sumsel bebas hotspot," ungkap Deru. 


Kepala BPBD Sumsel,  Iriansyah menambahkan,  kendati saat ini masih dalam kondisi puncak musim hujan, namun Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatra Selatan meminta kepada daerah rawan karhutla untuk berhati-hati dan mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).


Hingga saat ini pihaknya telah menerima laporan, ada beberapa daerah yang mengalami kekeringan dan rawan terjadinya karhutla. 


"Ada dua daerah mulai alami kekeringan meski sekarang puncak musim hujan,  yakni Muara Enim dan Pali," katanya. 


Menurutnya, beberapa antisipasi awal yang dilakukan saat ini, dengan melakukan upaya mempersiapkan sumur bor, sekat kanal, dan embung yang dapat menampung air yang bisa digunakan ketika terjadi karhutla.


Selain itu juga sosialisasi ke masyarakat terus dilakukan agar, menjaga wilayahnya dengan tidak membakar lahan saat musim kemarau tiba. 


"Dalam persiapan penanganan Karhutla, BPBD telah mensiagakan sekitar 9.000 personel guna melakukan patroli dan antisipasi karhutla. Ribuan personel itu, nantinya akan mulai bertugas pekan depan," tuturnya.  (Oca) 



Sumber Artikel::  https://palembang.tribunnews.com/2021/03/11/sumsel-waspadai-ancaman-karhutla-antisipasi-dini-musim-kemarau-diprediksi-lebih-kering?page=2.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.