Jangan Abaikan Protokol Kesehatan


Baturajaradio.com -Masyarakat diingatkan untuk terus menaati protokol kesehatan. Pelonggaran pembatasan yang dilakukan di sejumlah daerah bukan berarti ancaman Covid-19 telah mereda. Sebaliknya, kurva kasus positif baru berada dalam tren meningkat dan beberapa kali mencatatkan angka tertinggi pada Juni ini.

Berdasarkan data di laman Covid19.go.id, penambahan kasus baru konsisten berada di atas 500 kasus per hari sejak 5 Juni. Setelah itu, terdapat 10 hari dengan penambahan lebih dari 1.000 kasus per hari. Penambahan tertinggi terjadi pada Kamis (18/6) dengan jumlah 1.331 kasus.

Terlepas dari peningkatan kemampuan pemerintah melakukan tes Covid-19, data menunjukkan bahwa eskalasi kasus baru virus korona makin cepat. Sejak pertama kali diumumkannya kasus positif pada 2 Maret, ada jeda waktu hingga dua bulan hingga akhirnya jumlah kasus positif Covid-19 di Tanah Air menyentuh 10 ribu kasus, tepatnya 10.118 kasus pada 30 April.

Kemudian, hanya dalam waktu kurang dari sebulan, total jumlah kasus mencapai 20.162 kasus pada 21 Mei. Lonjakan kasus makin cepat dan banyak pada Juni ini. Pada 6 Juni, Indonesia mencatatkan 30.514 kasus baru. Sepuluh hari berselang, jumlahnya bertambah lebih dari 10 ribu kasus menjadi 40.400 kasus pada 16 Juni.

Adapun per Ahad (21/6), total kasus positif mencapai 45.891 kasus. Provinsi DKI Jakarta dan Provinsi Jawa Timur masih menjadi penyumbang terbesar kasus Covid-19 di Tanah Air.

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto menyampaikan, sebanyak 18.229 spesimen diperiksa pada Ahad (21/6). Dari pemeriksaan spesimen tersebut, ditemukan 862 kasus positif baru Covid-19 sehingga menjadikan total kasus sebanyak 45.891 orang.

Sementara, jumlah pasien sembuh bertambah sebanyak 521 orang sehingga total pasien sembuh, yakni 18.404 orang. Dan jumlah kasus meninggal pada kemarin tercatat bertambah sebanyak 36 orang.

Yurianto mengatakan, pemerintah terus melakukan pemantauan pelaksanaan protokol kesehatan di beberapa tempat, salah satunya di kawasan car free day Jakarta. Menurut dia, dalam kegiatan CFD yang baru kembali diadakan tersebut, masih ada masyarakat yang tak menjalankan dengan baik protokol kesehatan.

“Masih kita lihat beberapa masyarakat lupa bahwa physical distancing penting. Ini yang kami mohon untuk menjadi evaluasi kita bersama,” kata Yurianto saat konferensi pers, Ahad (21/6).

Selain di kegiatan CFD, kata Yurianto, pemerintah juga menemukan masyarakat yang tidak disiplin menjalankan jaga jarak di sejumlah bandara udara, seperti di Batam dan daerah lainnya. Yurianto menekankan, jaga jarak fisik wajib dilakukan selama masa pandemi. Protokol kesehatan mesti dijalankan secara disiplin untuk mengendalikan wabah Covid-1 dalam melaksanakan adaptasi kebiasaan baru.

Kesadaran bersama masyarakat untuk mencegah Covid-19 perlu ditingkatkan. Bukan rahasia lagi bahwa masih ada cukup banyak masyarakat yang abai terhadap risiko penularan. Di beberapa daerah, para pedagang pasar banyak yang menolak ikut tes cepat. Ada juga pengendara yang justru memarahi petugas ketika diimbau menggunakan masker. Bahkan, ada kejadian warga yang menolak pemakaman jenazah dengan menggunakan prosedur tetap penyakit menular.

Walau penambahan kasus baru masih tinggi secara nasional, sejumlah provinsi melaporkan jumlah pasien sembuh lebih banyak daripada kasus positif baru di wilayahnya. Yurianto mencontohkan, Gorontalo memiliki tambahan tujuh kasus baru, tapi jumlah pasien yang sembuh sebanyak 13 orang. Lalu, Lampung satu kasus baru dan lima pasien sembuh. "Kalimantan Barat hari ini tidak laporkan tambahan kasus, tetapi ada 21 pasien sembuh," ujar Yurianto.

Ia menambahkan, sebanyak 18 provinsi melaporkan penambahan kasus positif di bawah 10 kasus. Sembilan provinsi di antaranya melaporkan tidak ada sama sekali penambahan positif Covid-19, antara lain, Bangka Belitung, Bengkulu, Jambi, Kalimantan Barat, dan Sulawesi Tenggara.

Di Jawa Barat, Pemkot Sukabumi melaporkan tidak ada penambahan pasien positif dalam sepekan terakhir. Terakhir, kasus positif Covid-19 mengalami penambahan satu kasus pada Senin (15/6). Di sisi lain, jumlah pasien positif yang sembuh terus bertambah.

Saat ini kasus positif Covid-19 di Kota Sukabumi sebanyak 64 kasus. Dari jumlah itu, pasien sembuh sebanyak 55 orang. Sementara yang masih dalam perawatan sebanyak sembilan orang. Wali Kota Sukabumi Achmad Fahmi mengatakan, data ini menunjukkan tren kasus Covid-19 di wilayahnya mengalami penurunan atau melandai.

"Semoga hal ini dapat terus berlangsung dan tidak ada penambahan kasus. Untuk mewujudkannya butuh kedisiplinan dalam menerapkan protokol kesehatan," kata Fahmi.

Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PD IDI) Moh Adib Khumaidi mengatakan, penanganan Covid-19 harus dilakukan berbasis kewilayahan. Jumlah peningkatan kasus tidak bisa dievaluasi untuk Indonesia secara keseluruhan, tapi harus melihat peningkatan jumlah kasus per daerah.

Adib menjelaskan, meskipun angka secara nasional fluktuatif, ada beberapa wilayah yang memiliki kecenderungan peningkatan kasus yang tinggi. "Contoh Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Kalimantan Selatan. Itu yang sekarang jadi episentrum," kata Adib kepada Republika, Ahad (21/6).

Menurut dia, kasus positif di daerah-daerah dengan penambahan kasus yang tinggi perlu juga dilihat perkembangan jumlah pasien meninggal. Jika yang terdapat hanya pasien terkonfirmasi positif, kata dia, berarti ada faktor tes yang baru terlihat hasilnya.

"Namun, kalau kemudian angka meninggalnya itu tinggi dalam wilayah tersebut, kita harus menganalisis bahwa ada problem yang memang mengkhawatirkan di wilayah-wilayah tersebut," kata dia lagi.

Pasien sembuh bertambah

Gugus tugas percepatan penanganan Covid-19 di berbagai daerah juga terus melaporkan perkembangan kasus Covid-19. Salah satu perkembangan positif yang dilaporkan adalah bertambahnya jumlah pasien yang sembuh dari Covid-19.

Di Kota Depok, Jawa Barat, jumlah pasien sembuh bertambah sebanyak empat orang pada Ahad (21/6) sehingga totalnya menjadi 444 orang. “Alhamdulillah, pasien sembuh bertambah empat orang lagi sehingga jumlah seluruhnya ada 444 orang atau 62,89 persen," ujar Wali Kota Depok Mohammad Idris dalam siaran pers yang diterima Republika, Ahad (21/6).

Kendati demikian, Idris mengakui, ada dua kasus baru positif Covid-19 yang berasal dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat dan RS Hermina Depok. Sedangkan, pasien dalam pengawasan (PDP) yang selesai pengawasan bertambah delapan orang. "Untuk PDP yang meninggal saat ini berjumlah 101 orang, tidak terdapat penambahan dibandingkan hari sebelumnya," kata dia.

Pasien sembuh dari Covid-19 di Kota Bandung juga terus mengalami peningkatan. Hingga Sabtu (20/6) malam, jumlah pasien sembuh telah mencapai 228 orang atau 59.84 persen. Sedangkan, pasien Covid-19 yang masih aktif 113 orang atau 29,66 persen dan pasien yang meninggal 40 orang atau 10.50 persen.

Total pasien positif di Kota Bandung Bandung mencapai 381 orang. PDP yang masih dirawat sebanyak 181 orang dan yang selesai dirawat 972 orang.

Penyebaran Covid-19 di Kota Bandung merata di 30 kecamatan. Kecamatan dengan pasien positif Covid-19 terbanyak di Andir, Bandung Kulon, Bojongloa Kaler, Cicendo, Coblong, dan Regol.

Kepala Seksi Surveillance dan Imunisasi Dinas Kesehatan Kota Bandung Girindra Wardana mengatakan, pasien Covid-19 yang meninggal di Kota Bandung memiliki riwayat penyakit penyerta yang sudah akut. Bahkan, terdapat pasien meninggal berstatus PDP, tapi hasil tes Covid-19 belum selesai. "Setelah menunggu beberapa hari, hasil swab-nya positif Covid-19," ujarnya.

Ia mengatakan, pasien yang memiliki penyakit penyerta memiliki risiko lebih tinggi terpapar Covid-19, termasuk anak-anak dan lansia. Girindra berharap masyarakat tetap menjalankan protokol kesehatan meski sudah banyak kebijakan relaksasi atau pelonggaran di sejumlah tempat. “Masyarakat tetap harus memakai masker, rajin mencuci tangan, dan menjaga jarak.

Pemkot Bandung masih menjalankan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) proporsional hingga 26 Juni mendatang. Namun, sejumlah pelonggaran dilakukan pada masa PSBB, seperti aktivitas perkantoran, mal, restoran, dan hotel serta sebagian objek wisata.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Indonesia Muhadjir Effendy dan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto mengaku mengapresiasi kinerja Pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam menangani pandemi Covid-19. Muhajir dan Terawan sempat mendengar pemaparan dari Direktur Utama RSHS Bandung Nina Susana Dewi dan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil.

"Menurut saya, Jabar termasuk sangat bagus di dalam penanganan Covid-19 dengan jumlah penduduk terbesar. Sekarang kondisinya baik sebagian masih (zona) oranye, ada kuning, tapi sudah mulai menghijau kalau dilihat secara gugus parsial. Ini bagus untuk Jabar," ujar Muhadjir seusai meninjau Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, akhir pekan ini.

Kemudian, kata Muhadjir, RSHS Bandung sudah mulai menerapkan pengobatan pasien positif Covid-19 dengan metode convalescent plasma. Hasilnya, dengan metode itu, kondisi pasien mulai membaik.

Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto menilai, sinergitas antarlembaga di Jabar membuat penanganan Covid-19 berjalan baik. Ia menambahkan, kinerja rumah sakit dan para tenaga medis membuat kasus Covid-19 di Jabar relatif bisa terkendali.

"Kita melihat usaha dari Pemprov Jabar begitu bagus dan hasilnya membuat Provinsi Jabar makin membaik dalam penanganan Covid-19," katanya.

Menurut dia, RS di Jabar cukup baik dalam melakukan perawatan. Terawan pun berkomitmen membantu memfasilitasi proses pendaftaran sejumlah alat penanganan Covid-19 yang diproduksi di Jabar ke Badan Pengkajian dan Penerap




Sumber:>>(https://www.republika.id/posts/7759/jangan-abaikan-protokol-kesehatan)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.