Laju Tes Covid-19 RI Salah Satu yang Terendah di Dunia


3 Cara Deteksi Corona di Indonesia Beserta Tingkat AkurasinyaBaturajaradio.com --Pemerintah mengakui laju tes Covid-19 di Indonesia masih menjadi salah satu yang terendah di dunia. Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Kepala Bappenas) Suharso Monoarfa menyebutkan, kapasitas pemeriksaan Covid-19 (swab test) di Tanah Air masih di angka 743 tes per satu juta orang. Sampai sekarang, sudah 202.936 orang yang sudah diperiksa dengan swab test di Indonesia.

"Dengan kapasitas kita yang sekarang sudah naik 10 ribu-12 ribu bahkan kemarin tanggal 18 (Mei) sudah mencapai 12 ribu lebih tes, maka diharapkan dalam satu bulan ke depan kita bisa mencapai angka 1.838 per satu juta penduduk," jelas Suharso usai rapat terbatas dengan Presiden Jokowi, Rabu (20/5).

Bila menengok data regional, memang terlihat Indonesia kalau jauh dibanding negara tetangga. Malaysia misalnya, berhasil melakukan tes untuk 14.304 orang per sejuta penduduk. Filipina di angka 2.238 tes per satu juta penduduk, Vietnam 2.828 tes per satu juta penduduk, dan Thailand 4.099 tes per satu juta penduduk.

"Brazil yang relatif hampir sama kayak Indonesia di angka 3.462," kata Suharso.

Presiden Jokowi, ujarnya, berkali-kali telah memerintahkan jajarannya untuk mempercepat kemampuan tes di Indonesia. Tes masif ini dianggap menjadi kunci pemetaan sebaran Covid-19 yang akurat. Cepatnya tes juga diharapkan membuat pelayanan terhadap yang sakit bisa lebih cepat juga.

"Mudah-mudahan ke depan benar-benar kita bisa sampai 12 ribu. Kalau itu bisa 12 ribu, mudah-mudahan kita per satu jutanya akan semakin tinggi," kata Suharso.

Pemerintah Indonesia sedang mematangkan kebijakan pelonggaran kebijakan sosial agar masyarakat bisa kembali produktif. Langkah ini sejalan dengan 'kampanye' yang digaungkan pemerintah belakangan ini bahwa masyarakat harus bisa hidup berdampingkan dengan Covid-19.

Suharso menyebutkan bahwa setidaknya ada tiga parameter yang harus dipenuhi sebelum kebijakan pelonggaran dilakukan. Pertama, tingkat penularan yang rendah. Hal ini digambarkan dalam parameter R0 yang menginterpretasikan seberapa parah penularan suatu penyakit.

Parameter kedua, indikator sistem kesehatan. Poin ini fokus pada kesiapan fasilitas kesehatan di sebuah daerah melayani pasien Covid-19. Indikator kesiapannya, apabila jumlah kasus baru lebih rendah dari total kapasitas kesehatan yang disediakan khusus untuk Covid-19. Setiap fasilitas kesehatan, hanya diizinkan mengalokasikan 60 persen kapasitasnya untuk pasien Covid-19.

"Misalnya kalau sebuah rumah sakit punya 100 tempat tidur maka maksimum 60 tempat tidur itu untuk covid. Nah pasien baru yang datang itu jumlahnya dalam sekian hari itu harus di bawah 60 orang," kata Suharso.

Perhitungan ini akan menjadi pertimbangan apakah sebuah daerah diberi izin untuk melonggarkan pembatasan sosial atau tidak.

Parameter ketiga adalah surveilans. Istilah ini merujuk pada pengujian terhadap sekelompok kerumunan orang apakah mereka berpotensi terinfeksi Covid-19 atau tidak. Bagaimana memastikannya? Suharso menyebutkan bahwa kuncinya adalah pada tes massal.




(https://republika.co.id/berita/qao7wo328/laju-tes-covid19-ri-salah-satu-yang-terendah-di-dunia)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.