Harga Minyak Anjlok Terpukul Perang Harga


Ilustrasi Kilang Minyak(dok. Republika)Baturajaradio.com --Harga minyak mentah mengalami penurunan harian terbesar sejak Perang Teluk 1991 pada akhir perdagangan Senin (8/3), ketika produsen utama Arab Saudi dan Rusia memulai perang harga. Perang harga itu mengancam akan membanjiri pasokan pasar minyak global.

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Mei merosot 10,91 dolar AS atau 24,1 persen, menjadi menetap di 34,36 dolar AS per barel. Kontrak turun sebanyak 31 persen pada awal sesi menjadi 31,02 dolar AS, tingkat terendah sejak 12 Februari 2016.

Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman April jatuh 10,15 dolar AS atau 24,6 persen, menjadi ditutup di 31,13 dolar AS per barel. WTI sebelumnya anjlok 33 persen menjadi 27,34, juga yang terendah sejak 12 Februari 2016.

Kemerosotan hampir 25 persen dalam harga minyak memicu penjualan panik dan kerugian besar pada indeks saham utama Wall Street ketika penyebaran cepat virus corona memperkuat kekhawatiran akan resesi global.

Arab Saudi dan Rusia sama-sama mengatakan mereka akan meningkatkan produksi pada akhir pekan setelah pakta tiga tahun antara mereka dan produsen minyak utama lainnya untuk membatasi pasokan gagal disepakati pada Jumat (6/3). Moskow telah menolak untuk mendukung Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dalam melakukan pengurangan minyak yang lebih dalam untuk mengatasi penurunan permintaan secara substansial yang disebabkan oleh dampak virus corona terhadap perjalanan dan kegiatan ekonomi.

Senin (9/3) menandai penurunan persentase satu hari terbesar untuk kedua kontrak acuan minyak sejak 17 Januari 1991, ketika harga minyak turun sepertiga pada permulaan Perang Teluk AS. Volume perdagangan di bulan depan untuk kedua kontrak mencapai rekor tertinggi.

Harga saham-saham energi juga telah turun tajam. Produsen serpih (shale) mulai memangkas pengeluaran untuk mengantisipasi pendapatan yang lebih rendah.

Saham Exxon kehilangan lebih dari 12 persen. Persentase kerugian ini ialah satu hari terbesar sejak 15 Oktober 2008, puncak krisis keuangan.
Saham Chevron jatuh lebih dari 15 persen, kerugian terbesar sejak kejatuhan pasar "Black Monday" Oktober 1987.

"Selama akhir pekan, setiap perusahaan mengurangi jumlah (kontrak) mereka dan pada dasarnya serpih masuk ke mode bertahan hidup dalam hal pengeluaran modal dan aktivitas," kata Dan Yergin, wakil ketua IHS Markit.

Arab Saudi berencana untuk meningkatkan produksi minyak mentahnya di atas 10 juta barel per hari (bph) pada April dari 9,7 juta bph dalam beberapa bulan terakhir. Kerajaan memangkas harga ekspor pada akhir pekan untuk mendorong pabrik penyulingan membeli lebih banyak.

Rusia, salah satu produsen top dunia bersama Arab Saudi dan Amerika Serikat, juga mengatakan mereka dapat meningkatkan produksi dan dapat mengatasi harga minyak yang rendah selama enam hingga 10 tahun.
OPEC, Rusia dan produsen lain telah bekerja sama selama tiga tahun untuk menahan pasokan dalam kelompok yang dikenal sebagai OPEC+.

Negara-negara lain dalam kelompok itu kemungkinan akan meningkatkan pasokan dan memangkas harga untuk bersaing, menambah pasar yang sudah dibanjiri minyak mentah.
Arab Saudi, Rusia, dan produsen besar lainnya terakhir berebut untuk mendapatkan pangsa pasar pada 2014 dalam upaya menekan produksi dari Amerika Serikat. AS yang belum bergabung dengan pakta pembatasan produksi apa pun, sekarang menjadi produsen minyak mentah terbesar dunia berkat laju yang cepat peningkatan produksi dari sektor serpih. [,]




(https://republika.co.id/berita/q6ycwp370/harga-minyak-anjlok-terpukul-perang-harga)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.