Dampak Corona, Aktivitas Ekspor-Impor Produk Unggulan Desa Terganggu

Pengunjung memilih hasil kerajinan UMKM yang dijajakan seperti tas anyaman, tikar, dan beragam busana yang terbuat dari rotan di Pameran Produk Kerajinan UMKM di SMESCO, Jakarta, Kamis (5/6/2014). Acara tersebut digelar oleh Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) dan UMKM dari seluruh Indonesia untuk meningkatkan daya saing dalam menghadapi pasar bebas ASEAN 2015. (FOTO: Rachman Haryanto/detikFoto)baturajaradio.com - Wabah global Virus Corona (COVID-19) di China berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Salah satunya aktivitas ekspor-impor produk unggulan desa di Indonesia yang ikut terganggu.
Staf Khusus Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, Dodik P Wijaya mengatakan situasi ekonomi global tersebut berdampak pada kurang lebih 3 persen dari total jumlah desa yang menghadapi kesulitan dalam mengekspor produk unggulan desa, seperti produk makanan (1.183 desa), produk bukan makanan (517 desa), dan produk makanan dan bukan makanan (773 desa).
"Dampak tidak langsung juga tetap ada di 16.747 desa atau 22 persen dari total desa yang memiliki banyak produk unggulan yang menghadapi beberapa kesulitan dalam mengekspor produk," ujar Dodik dalam keterangan tertulis, Senin (9/3/2020).
Terkait hal tersebut, Dodik mengatakan, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi mewajibkan dana desa tahap 1 yang telah dicairkan, agar digunakan untuk program kegiatan dengan sistem padat karya tunai (cash for work). Sistem tersebut akan memberikan peluang kerja bagi pengangguran dan masyarakat miskin di desa.
"Upah yang diterima oleh pekerja akan meningkatkan daya beli masyarakat dengan langsung meningkatkan konsumsi rumah tangga kumulatif dan mengurangi Rasio Gini di masyarakat," imbuh Dodik.
Lebih lanjut, Dodik mengatakan, penggunaan dana desa dengan sistem padat karya tunai akan membantu meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional. Pasalnya, lebih dari 50 persen masyarakat Indonesia tinggal di perdesaan.
"Ekonomi, tidak hanya di daerah perkotaan tetapi juga di desa atau daerah pedesaan. Karena lebih dari 50 persen penduduk Indonesia tinggal di desa, situasi ekonomi desa memiliki dampak yang berarti bagi tingkat nasional," tambahnya.
Sebelumnya, Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, Abdul Halim Iskandar mengatakan, dana desa memiliki dampak signifikan terhadap daya tahan ekonomi di pedesaan.
Ia mengatakan, dana desa adalah satu-satunya cara untuk memastikan desa tahan terhadap gejolak ekonomi global saat ini, yang diakibatkan oleh perang dagang dan virus corona.
"Terkait dana desa termin pertama, harus digunakan untuk padat karya tunai. Ini mutlak. Karena itu satu-satunya solusi untuk daya tahan ekonomi akibat pengaruh global," ungkap Abdul.
Mantan Ketua DPRD Jawa Timur ini katakan, sistem penyaluran dana desa tahun ini telah mengalami percepatan. Jika dana desa sebelumnya disalurkan melalui RKUD (Rekening Kas Umum Daerah), maka tahun ini dana desa disalurkan dari RKUN (Rekening Kas Umum Nasional) langsung ke rekening desa.
"Persentase pencairannya juga berbeda. Kalau tahu lalu tahap I dicairkan 20 persen, tahap II 40 persen, tahap III 40 persen. Tahun ini tahap I dicairkan 40 persen, tahap II 40 persen, tahap III 20 persen," pungkasnya.
Sumber>>https://news.detik.com/berita/d-4932068/dampak-corona-aktivitas-ekspor-impor-produk-unggulan-desa-terganggu?tag_from=wp_nhl_2

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.