Banner

Banner
Pemkab OKU

Harga Getah Karet di OKU Bergerak Naik

Berita OKU: Harga Getah Karet di OKU Bergerak Naikbaturajaradio.com - Sudah hampir sebulan terakhir harga getah karet di Kabupaten Ogan Komering Ulu bergerak naik, meskipun belum terlalu signifikan namun kenaikan ini  membuat petani gembira.

Seperti dituturkan  Ismail (40) kepada SRIPO Kamis (25/10/2018), harga getah karet yang ditimbang dua mingguan sekarang dihargai Rp 9.900/kg.

Harga ini mengalami kenaikan dibandingkan dengan bulan lalu yang masih Rp 8.500/kg. “Alhamdulillah, walaupun naik dikit ini merupakan pertanda baik,” kata ayah dua anak ini seraya menambahkan bagi petani karet sekecil apapun kenaikan harga tetap membuat petani bergembira.

Apalagi saat ini kebutuhan  semakin banyak harga –harga naik, “Garam saja dulunya Rp 1.000 sebungkus kini sudah menjadi Rp 6.000/bungkus .

Harga ini memang belum seberapa jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang saat itu harga karet sempat menyentuh angka Rp 20 ribu/kg. Namun setidaknya harapan petani sudah mulai tumbuh. Petani berharap kedepan harga komoditas andalan di Bumi Sebimbing Sekundang ini akan terus bergerak naik.

Bagi petani, satu-satunya harapan adalah naiknnya harga karet, petani menilai wajar apabila pemerintah ikut memperhatikan harga getah karet agar petani juga ikut sejahterah. 

Sementara itu berdasarkan catatan Sripoku.com  tanaman karet memang menjadi tanaman primadona di Kabupaten OKU,  luas areal perkebunan karet  alam milik rakyat  yang terdata saja mencapai 71.807,5 Ha dengan total produksi yang terdata 52.447,47 ton per tahun.

Jumlah ini  baru yang terdata saja, sedangkan yang tidak terdata jumlahnya diperkirakan masih banyak. Sedangkan perkebunan besar milik perusahaan terdata baru 918,09 ha dengan total produksi sekitar 1.893,48 ton per tahun.

Di sisi lain, informasi dilapangan menyebutkan  perekonomian rakyat Kabupaten yang berjuluk Bumi Sebimbing Sekundang ini memang ditopang dari dua komuditas yakni karet dan sawit.

Namun karet memang lebih besar dibandingkan sawit, karena petani bisa membuka kebun sendiri dan bisa langsung menjual sendiri karena banyak tauke karet yang langsung datang ke desa-desa.

Sebaliknya untuk komoditas sawit memang masih bergantung keperusahan perkebunan, artinya petani tidak bisa menjual sesuka hati. 


(http://palembang.tribunnews.com)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.