Banner

Banner
Pemkab OKU

Pengertian Tembang Campursari Jawa Dan Contohnya

Image result for gambar campur saribaturajaradio.com - Campursari yaitu jenis lelagon Jawa yang merupakan gabungan berbagai ragam seni. Campursari berarti lelagon Jawa yang memuat aspek seni komplit, baik nada diatonis maupun pentatonis. Lagu campursari tergolong jenis tembang Jawa yang renyah, semangat, dan penuh kegembiraan. Pemaduan unsur gamelan dan musik nasional (modern) yang memberi aroma khusus pada campursari Istilah campursari, dapat ditinjau dari keragaman seni didalamnya. Campur berarti pemaduan dan sari (inti). Campursari berarti pemaduan yang kental, sehingga memunculkan estetika dan artistika tembang yang unik. 

Tiap tembang digabungkan agar mewujudkan kepaduan hakiki, demi tercapainya harmoni Tokoh campursari yang terkenal pada awal pemunculannya adalah Manthou's dari Gunung Kidul.

Tiap tembang digabungkan agar mewujudkan kepaduan hakiki, demi tercapainya harmoni Tokoh campursari yang terkenal pada awal pemunculannya adalah Manthou's dari Gunung Kidul.

Selanjutnya bertebaran penyanyi-penyanyi campursari lain seperti: Sunyahni, Didi Kempot, Edy Laras, dan sejumlah group di desa-desa amat banyak Campursari yang muncul di berbagai arena pertunjukan ritual, perkawinan, cafe-cafe, rumah makan, gedung pertemuan, tetap memukau dan menghiasi suasana. 

Para pelantun tembang campursari sering meliuk-liuk, berpakaian Jawa, dan mendekat ke penonton. Dengan cara demikian, campursari menjadi tembang yang digemari masyarakat dari kalangan anak sampai kaum sepuh.

Aransement tembang campursari dapat berubah-ubah, karena inovasi dibutuhkan antara musik diatonis dan pentatonis agar tidak membosankan. Pengawinan musik tradisional dengan modern itu, membentuk irama tersendiri yang amat ritmis. Bahkan sekarang tembang campursari telah merambah ke mana saja, pedalangan, dagelan, wayang orang, ketoprak, dan sebagainya dapat menggunakan campursari.

Dilihat dari alat atau piranti yang digunakan, berupa gamelan tradinal Jawa dan instrumèn musik nasional, menandai bahwa campursari memang tembang yang seperti gudeg. Semakin kental dan masak campuran musik serta lagu, semakin menarik pula garapan campursari termaksud. Ciri khas campursari adalah gabungan antara gamelan saron panjang dan alat musik modern.

Improvisasi campursari, tampak menjadi sebuah hiburan seperti dhangdhut. Ketika musik dhangdhut semakin tergeser, kawula muda mulai melirik campursari. Campursari dapat memenuhi selera segala umur Instrumèn campursari yang sering digunakan antara lain kendhang, demung, gong, rebab, saron, piano, dan gitar. 

Tembang yang banyak mewarnai campursari bisa wujud: 
  • Lagu Dolanan
  • Langgam
  • Macapat
  • Tembang Gedhe
  • Gendhing Sekar, 
  • Sekar Gendhing, 
  • Bawa, 
  • Umpak-umpak  
Peraga yang menyanyi campursari disebut wiraswara (putra) atau wiraswarawati (wanita). Biasanya wiraswara mengenakan pakaian Jawa gaya Solo dan atau Yogya, dengan model blangkon klewer. Ada juga yang mengenakan bl agkon model warok atau ketoprak. 

Sedangkan pelantun perempuan biasanya mengenakan pakaian Jawa lengkap atau semi lengkap. Sebagian memang ada yang mengenakan pakaian serba tipis, dengan dalih untuk menyedot perhatian penonton.

Pelantun campursari biasanya bebas, sering ke sana kemari, mengajak penonton berjoged. Ada pula yang melagukan campursari diselingi dialog seperlunya, dengan dalih untu humor (lawak). Biasanya mereka ada yang bawa diteruskan campursari, berjoged bebas. 

Dengan cara demikian campursari semakin digemari oleh siapa saja. Bentuk tembang campursari adalah rangkaian antara berbagai unsur, agar pertunjukan lebih memukau. Tentu saja untuk tampil prima, diperlukan latihan intensif, baik dari sisi bloking, akting, dan olah vokal.

(https://www.conggado.com)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.