Banner

Banner
Pemkab OKU

Harga Minyak Kembali Naik

Kilang minyakbaturajaradio.com -Harga minyak sedikit lebih tinggi pada akhir perdagangan Kamis (27/9). Kenaikan ini didorong oleh prospek kekurangan pasokan global setelah sanksi-sanksi AS terhadap eksportir minyak mentah utama Iran mulai berlaku dalam lima pekan lagi.

Presiden AS Donald Trump pekan ini mendesak Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) meningkatkan produksinya guna mencegah kenaikan harga lebih lanjut menjelang pemilihan umum paruh waktu pada November untuk anggota-anggota Kongres AS. "Pasar terus bergerak lebih tinggi di tengah kekhawatiran bahwa hilangnya ekspor Iran tidak akan dibuat-buat," kata Gene McGillian, direktur riset pasar di Tradition Energy, di Stamford Connecticut.

Para analis mengatakan OPEC dan Rusia tampaknya tidak akan segera meningkatkan produksi mereka seperti yang diminta Trump. Menteri Energi AS Rick Perry telah mengesampingkan penggunaan cadangan minyak mentah strategis AS untuk menurunkan harga minyak.

Namun, para pelaku pasar khawatir Trump akan beralih untuk menjual minyak dari cadangan minyak strategisnya. Hal ini dengan tujuan untuk membatasi kenaikan harga minyak, yang ia gambarkan sebagai negatif bagi perekonomian.

Kontrak berjangka minyak mentah Brent paling aktif untuk penyerahan Desember ditutup naik 0,59 dolar AS ke level 81,38 dolar AS per barel, di bawah level tertinggi sesi 81,90 dolar AS tetapi masih dalam kisaran tertinggi empat tahun pada Selasa (25/9) sebesar 82,55 dolar AS. Minyak mentah Brent untuk pengiriman November bertambah 0,38 dolar AS menjadi menetap di 81,72 dolar AS per barel di London ICE Futures Exchange. Kontrak berjangka November akan berakhir pada perdagangan Jumat (28/9) waktu setempat.

Sementara itu, minyak mentah AS, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman November naik 0,55 dolar AS menjadi menetap di 72,12 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange. "Di atas kertas, Anda dapat berdebat bahwa sudut pandang teknis dan fundamental menunjukkan harga yang lebih tinggi, jadi saya pikir itu akan berlanjut hingga minggu depan dan seterusnya," kata manajer senior Saxo Bank, Ole Hansen.

Estimasi sangat bervariasi tentang berapa banyak sanksi-sanksi AS dapat menghapus minyak mentah Iran dari pasar. Perkiraan itu mulai dari 500.000 barel per hari (bph) hingga dua juta barel per hari. Di tertinggi 2018 pada Mei, Iran mengekspor 2,71 juta barel per hari, hampir tiga persen dari konsumsi minyak mentah global harian.

Arab Saudi diam-diam akan menambahkan minyak ekstra ke pasar dalam beberapa bulan mendatang untuk mengimbangi penurunan produksi Iran. Namun, Arab Saudi mungkin perlu membatasi produksi tahun depan karena AS akan memproduksi lebih banyak minyak mentah.(https://republika.co.id)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.