Banner

Banner
Pemkab OKU

Kasus Tutut Beracun Tekan Omzet Pedagang

Baturajaradio.com - Kasus keracunan makanan tutut atau keong sawah mulai berdampak pada pelaku usaha makanan tersebut. Sejak pemberitaan kasus keracunan makanan tutut muncul omzet penjualan berkurang dibandingkan sebelumnya.

Salah satunya dialami pelaku usaha makanan tutut di Kota Sukabumi dengan merk D’Tutut Syuruduth, Achmad Farid. "Dampak adanya kasus keracunan jelas terasa,’’ ujar Achmad Farid kepada wartawan, Kamis (26/7).
Ia mencontohkan omzet penjualan berkurang sekitar 70 persen dalam beberapa hari terakhir. Dalam sehari normalnya bisa terjual sebanyak 100 porsi namun kini menjadi 20 porsi.

Farid mengatakan, adanya kasus keracunan tutut di Sukabumi tersebut  baru pertama kali terjadi. Farid bersama istrinya sudah merintis usaha makanan tutut sejak delapan tahun lalu atau 2010 lalu. Namun dalam rentang waktu tersebut tidak ada warga yang mengalami keracunan.

Kasus keracunan tutut di Kecamatan Kadudampit dan Cisaat, Kabupaten Sukabumi ungkap Farid diduga akibat faktor pengolahan makanan yang kurang bagus. Sebabnya makanan tutut yang dijualnya hingga kini tidak pernah terjadi kasus keracunan.
"Kami melakukan pengolahan secara higienis dan bersih mulai dari awal bahan mentah hingga dimasak,’’ ujar Farid. Misalnya buntut dari tutut digunting dan dicuci hingga bersih serta diberi bumbu yang berkualitas supaya layak jual.

Farid mengakui, tutut yang dijualnya memang sedikit mahal yakni Rp 14 ribu per porsinya. Makanan yang dijualnya pun sudah masuk ke tujuh pusat kuliner di pasar modern yang ada di Kota Sukabumi dan Kabupaten Sukabumi.

"Sebelum berjualan tutut kami juga menimbang apakah barang ini meracuni orang atau tidak dan sebagai pedagang tidak mungkin meracuni orang,’’ kata Farid.  Sehingga kasus keracunan yang terjadi dimungkinkan dari pengolahan yang kurang bagus.

Penurunan omzet penjualan tutut juga dialami pedagang tutut mentah di pasar tradisional Kota Sukabumi. "Dalam sehari biasanya terjual 50 kilogram tutut, namun kini maksimal hanya 20 kilogram saja," ujar pedagang tutut, Jedow (26 tahun).

Saat ini, ia hanya bisa pasrah dan berharap dampak adanya keracunan tutut bisa segera berlalu. Pasalnya makanan tutut tersebut layak untuk dimakan bila diolah dengan baik dan bersih.(https://www.republika.co.id)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.