Header Ads

Sumsel tingkatkan SDM belajar ke Tiongkok dan Korsel

Baturaja Radio - Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan fokus meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia dengan mengirimkan sejumlah putra daerah terpilih belajar di perguruan tinggi ternama di Tiongkok dan Korea Selatan.

Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin di Palembang, Sabtu, mengatakan, Pemprov Sumsel telah melanjutkan program sekolah gratis hingga ke jenjang perguruan tinggi.

Pemprov menyediakan kuota untuk 2.000 mahasiswa setiap tahun dengan mengucurkan dana APBD sebesar Rp120 miliar.

Terdapat 64 program studi kuliah gratis di antaranya program studi adminsitrasi bisnis, agribisnis, akuntansi, bahasa Inggris, geologi, ilmu komunikasi, hukum, kelautan, jurnalistik, kesehatan masyarakat, manajemen, peternakan, teknik elektro, usaha perjalanan wisata, hotel accomodation, dan mining engineering.

"Mahasiswa-mahasiswa inilah yang akan mengisi lapangan kerja di Sumsel, termasuk untuk KEK Tanjung Api-Api," kata dia.

Ia mengatakan rendahnya kualitas Sumber Daya Manusia menjadi ancaman tersendiri bagi Sumatera Selatan pada masa mendatang jika pada akhirnya mampu merealisasikan Kawasan Ekonomi Khusus Tanjung Api-Api, kata Gubernur Sumsel Alex Noerdin.

"Pembangunan infrastruktur memberikan dampak luar biasa bagi Sumsel. Provinsi ini bisa beberapa langkah jauh lebih maju dibandingkan daerah lain. Tapi jangan lupa, jika SDM-nya berkualitas rendah maka ini menjadi ancaman sendiri di masa datang," kata Alex di Palembang, Jumat.

Ia mengatakan Kawasan Ekonomi Khusus Tanjung Api-Api yang dilengkapi pelabuhan laut akan menjadi tempat sejumlah industri pengelolahan besar beroperasi, mulai dari pembuatan produk turunan karet, minyak sawit, batu bara, dan lainnya. Dua perusahaan nasional yakni PT Pertamina dan PT Pusri juga akan membangun asetnya di sana.

Namun, jika kemajuan ini tidak diimbangi dengan kemampuan penduduk maka akan menjadi sia-sia karena "lapak" yang sejatinya menjadi miliki lokal akan diambil pihak luar.

Bukan hanya tenaga kerja lokal dari luar daerah yang akan menyasarnya, tapi juga tenaga kerja asing.

Untuk itu, sejak lama Alex yang telah memimpin Sumsel sejak 2008 hingga sekarang telah meletakkan pondasi kebijakannya pada dua sektor utama yakni kesehatan dan pendidikan.

Program yang dikenal dengan sebutan "berobat dan sekolah gratis" yang telah dijalankan sejak mulai memimpin Sumsel itu, menurut Alex baru bisa dirasakan paling tidak sepuluh tahun kemudian.

Oleh karena itu, jika KEK TAA terealisasi pada 2018 perlu dilakukan langkah antisipasi.

Selain itu, terkait langkah jangka pendek juga, untuk menekan derasnya arus tenaga kerja asing (TKA), Alex juga memperingati instansi terkait untuk ketat dalam pengawasan masa tinggal warga asing.

"Jika bekerja sebagai tenaga kerja terampil, artinya lantaran skill yang dimiliki tidak dimiliki orang lokal ya boleh-boleh saja, tapi setelahnya harus segera pulang ke negaranya. Untuk buruhnya, wajib orang lokal," kata dia.

Sementara itu, berdasarkan laporan akhir tahun Pemprov Sumsel diketahui bahwa Indek Pembangunan Manusia di Sumsel sejak 2015 sudah masuk dalam klarifikasi sedang dengan sebesar 67,46. IPM Sumsel secara simultan terus bergerak naik dari tahun 2010.

Dari 17 Kabupaten Kota di Sumsel, terdapat tiga lokasi yang memiliki IPM tertinggi yakni Palembang, Prabumulih, dan Musi Rawas (Lubuklinggau), sedangkan yang terendah Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir. (antarasumsel.com)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.