Banner

Banner
Pemkab OKU

BIAR DIKENAL, KAIN SONGKET HARUS JADI ORNAMEN BANGUNAN DI SUMSEL


Baturaja Radio -  Pemerhati sosial Kota Palembang Bagindo Togar meminta kepada pemerintah daerah Sumatera Selatan untuk selalu mengangkat budaya yang ada di Sumsel. Salah satunya kain khas Wong Palembang yakni Songket dan Rumah Limas.

Menurut Bagindo yang juga Ketua IKA FISIP Universitas Sriwijaya, cara mengenalkan songket dan rumah limas bisa dilakukan dengan memberikan sentuhan ornamen kain songket disetiap bangunan yang ada di Sumsel.

"Ornamen songket harusnya menghiasi seluruh bangunan yang ada di Sumsel ini. Seperti di Sumatera Barat, bukan hanya bangunan pemerintah termasuk rumah ibadah," katanya disela-sela acara Obrolan Akhir Tahun (Obat) " Tarian Kaum Kapitalis Dan Sosialis Diatas Pusara Nasionalisme" di Hotel Amaris Lantai II Palembang, Jumat kemarin.

Saran tersebut kata dia telah disampaikannya kepada pemerintah Sumsel. Dia meminta agar nanti dalam pembangunan Masjid Sriwijaya ornament songket dimasukkan guna membangun masjid Sriwijaya tersebut.

"Saya sudah sampaikan sehingga kalau ada saudara kita dari Malaysia ketika mereka shalat di sana mereka merasa shalat di Palembang dan tidak merasa shalat di Timur Tengah, jangan seperti di Serang itu copy paste dari Timur Tengah Masjidnya, orang tidak tahu shalat dimana jadinya ternyata shalat di Serang," jelasnya.

Untuk itu dia berharap konten-konten lokal harus dikembangkan dengan tidak bertentangan dengan nilai-nilai agama dan sebagainya.

Budaya lokal menurutnya merupakan wujud nasionalisme Negara kita, yang berbeda tiap daerah. Sumsel ujarnya harus bisa memunculkan konten-konten lokal tadi, sehingga masyarakat akan bisa membendung bentuk kapitalitas dan sosialis dengan menunjukkan konten lokalnya.

Sementar itu, terkait kapitalis yang merebak di Indonesia menurutnya tinggal adanya pengaturan dari pemerintah dan menguatkan ekonomi rakyat.

"Potensi ekonomi rakyat dan kreativitas perekonomian rakyat harus di support pemerintah dengan membuat yang tidak menyulitkan masyarakat," katanya.

Karena dia menilai kalau nasionalisme itu terdapat dari kebudayaan yang ada dari daerah yang berbeda dan nilai-nilai itulah yang menguatkan nasionalisme Indonesia.

Sementara itu, Alumni Lemhanas RI Erry Gustion SH Mkn menilai kalau di era 70 dan 80 pendidikan P4 yang menonjolkan cinta nasionalisme memang sudah di tanamkan sejak dini namun sekarang hal tersebut tidak ada lagi.

"Akibat media sosial dan yang lainnya tidak terbendung lagi sehingga membuat pemahaman terhadap rasa kebangsaan ini menjadi terkikis, kedepan untuk Sumsel nanti mungkin kita dorong terutama bidang pendidikan , biarlah kita berbeda dengan kota lain namun di Sumsel ada lagi program penataran P4," katanya. (R.MOL)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.