Baturaja Radio.com - Musim kering belum sepenuhnya berlalu dari Sumatera Selatan. Di tengah kondisi lahan yang semakin mudah terbakar, sejumlah wilayah mulai menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Catatan kejadian menunjukkan, PALI menjadi daerah dengan jumlah karhutla paling tinggi, yakni mencapai 151 kejadian.
Angka tersebut menempatkan PALI di posisi teratas dibandingkan daerah lainnya.
Di bawahnya terdapat Prabumulih dengan 95 kejadian, kemudian OKU Timur 71 kejadian dan Muratara sebanyak 68 kejadian.
Wilayah OKU juga tidak luput dari ancaman. Sebanyak 65 kejadian karhutla tercatat terjadi di daerah tersebut.
Selanjutnya, Musi Rawas mencatat 59 kejadian, sedangkan Lahat berada di angka 34 kejadian.
Deretan angka tersebut menjadi gambaran bahwa ancaman api masih menyebar di berbagai wilayah Sumsel.
Bukan hanya daerah dengan jumlah kejadian tinggi, wilayah yang jumlah kasusnya lebih rendah pun tetap membutuhkan kewaspadaan.
Empat daerah lainnya saat ini masih berada dalam status kuning. Keempatnya yakni OKU Selatan dengan 23 kejadian, Empat Lawang 15 kejadian, Lubuklinggau 12 kejadian, dan Pagar Alam sebanyak 11 kejadian. Kondisi itu membuat pemantauan di lapangan terus diperketat.
Kepala Pelaksana BPBD Sumsel, Sudirman, saat dikonfirmasi Senin (31/8) mengatakan pihaknya masih mengikuti perkembangan karhutla di sejumlah daerah.
Empat daerah lainnya saat ini masih berada dalam status kuning. Keempatnya yakni OKU Selatan dengan 23 kejadian, Empat Lawang 15 kejadian, Lubuklinggau 12 kejadian, dan Pagar Alam sebanyak 11 kejadian. Kondisi itu membuat pemantauan di lapangan terus diperketat.
Kepala Pelaksana BPBD Sumsel, Sudirman, saat dikonfirmasi Senin (31/8) mengatakan pihaknya masih mengikuti perkembangan karhutla di sejumlah daerah.
“Pemantauan terus dilakukan, termasuk penanganan di lapangan bersama BPBD kabupaten dan kota serta tim terkait,” ujar Sudirman.
Di sisi lain, masyarakat kembali diingatkan agar tidak menganggap remeh penggunaan api ketika membuka maupun membersihkan lahan.
Terlebih dalam kondisi tanah dan vegetasi yang kering, bara kecil sekalipun dapat berubah menjadi sumber kebakaran yang sulit dikendalikan apabila tertiup angin dan merambat ke area lain.
Karena itu, warga diminta memilih cara yang lebih aman dalam membersihkan lahan dan tidak melakukan pembakaran secara sembarangan.
Sudirman juga meminta masyarakat segera melapor jika menemukan kebakaran. Semakin cepat informasi diterima petugas, semakin besar peluang api dapat ditangani sebelum meluas.
“Kami mengimbau masyarakat jangan membuka lahan dengan cara membakar. Kalau melihat ada kebakaran, segera laporkan agar bisa cepat ditangani,” tegasnya.
Ancaman karhutla pun kini bukan sekadar soal jumlah kejadian. Di balik setiap titik api, terdapat risiko meluasnya kebakaran yang dapat mengganggu lingkungan dan aktivitas masyarakat.
Kewaspadaan warga menjadi salah satu kunci agar api tidak kembali menemukan jalan untuk membesar. (len)
https://palpos.disway.id/ogan-komering-ulu/read/720666/karhutla-masih-mengintai-sumsel-pali-tembus-151-kejadian-oku-ada-65-kejadian/15
Tidak ada komentar