Pasang Iklan Berbayar Disini

Pasang Iklan Berbayar Disini

Gas Melon Tembus Rp35 Ribu, Warga Pancur Pungah Mengeluh



Baturajaradio.com - Keluhan terkait tingginya harga gas elpiji subsidi 3 kilogram kembali mencuat di tengah masyarakat. 

Kali ini, protes datang dari warga Kelurahan Pancur Pungah, Kecamatan Muaradua, Kabupaten OKU Selatan. 

Mereka mengeluhkan harga gas melon yang diduga dijual hingga Rp35 ribu per tabung oleh pengecer, jauh di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditetapkan.

Tak hanya soal harga yang melambung, warga juga mempertanyakan kualitas isi tabung. 

Sejumlah pembeli mengaku gas cepat habis meski baru digunakan dalam waktu singkat. Bahkan, nyala api kompor disebut tidak bertahan lama seperti biasanya.

Seperti dilansir Harian OKU Selatan (grup OKU Ekspres) salah seorang warga setempat, WI menyampaikan kekecewaannya. Menurutnya, harga Rp35 ribu per tabung sangat memberatkan, terlebih elpiji 3 kilogram merupakan program subsidi pemerintah yang diperuntukkan bagi masyarakat berpenghasilan rendah.

“Selain mahal, rasanya isi gas juga tidak penuh. Baru dipakai sebentar, api sudah mengecil. Kami ini masyarakat kecil, tentu sangat terdampak,” ujarnya, Senin (23/2/2026).

Ia menambahkan, kondisi tersebut semakin terasa menjelang bulan suci Ramadan, ketika kebutuhan rumah tangga meningkat. 

Gas elpiji menjadi kebutuhan utama untuk memasak, sehingga kenaikan harga sangat memengaruhi pengeluaran keluarga.

Keluhan serupa juga disampaikan warga lainnya. Mereka mengaku terpaksa tetap membeli meski harga tinggi karena sulit menemukan gas dengan harga normal. 

Bahkan, sebagian harus berkeliling ke beberapa tempat demi mendapatkan satu tabung.

“Tidak ada pilihan. Kalau tidak beli, kami tidak bisa memasak. Jadi tetap dibeli walaupun mahal,” ungkap seorang ibu rumah tangga.

Sebagai informasi, elpiji 3 kilogram merupakan program subsidi pemerintah yang didistribusikan melalui PT Pertamina (Persero) untuk membantu masyarakat kurang mampu. 

Harga jualnya di tingkat pengecer seharusnya mengikuti HET yang telah ditetapkan pemerintah daerah.

Namun di lapangan, praktik penjualan di atas HET masih kerap terjadi. Minimnya pengawasan disinyalir menjadi salah satu penyebab maraknya pelanggaran tersebut.

Warga pun mendesak pemerintah daerah dan instansi terkait agar segera melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke pangkalan maupun pengecer. 

Mereka meminta agar pengawasan tidak hanya fokus pada harga, tetapi juga memastikan isi tabung sesuai dengan standar yang berlaku.

“Kalau memang ada pelanggaran, kami berharap ditindak tegas. Jangan sampai masyarakat kecil terus dirugikan. Gas ini subsidi untuk rakyat, bukan untuk disalahgunakan,” tegas WI.

Sampai berita ini ditulis, belum ada pernyataan resmi dari pihak pengecer maupun instansi terkait mengenai dugaan penjualan di atas HET dan keluhan terkait isi tabung yang tidak sesuai. 

Warga berharap distribusi elpiji subsidi di wilayah OKU Selatan dapat diawasi lebih ketat agar hak masyarakat tetap terlindungi.

Sumber : https://okes.disway.id/oku/read/662247/gas-melon-tembus-rp35-ribu-warga-pancur-pungah-mengeluh/15

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.