Pasang Iklan Berbayar Disini

Pasang Iklan Berbayar Disini

Masyarakat OKU Perlu Tahu! Tirta Raja Pernah Rugi Rp37,2 Miliar, Kini Berjuang Bangkit dari Krisis Pelayanan



Baturajaradio.com
- Perjalanan Perumda Tirta Raja Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan, tak lepas dari dinamika panjang. 

Selama bertahun-tahun perusahaan daerah ini menanggung akumulasi kerugian hingga Rp37,2 miliar. 

Penyebab utama berasal dari tunggakan pelanggan sekitar Rp15 miliar dan keterbatasan pendapatan yang hanya berkisar Rp1,8–Rp1,9 miliar per bulan, nyaris habis untuk biaya gaji, listrik, serta perawatan operasional.

Namun, titik balik mulai terlihat. Tahun 2024, Tirta Raja berhasil mencatat laba Rp181 juta dengan predikat laporan keuangan Wajar Tanpa Pengecualian (WTP). Tren positif ini berlanjut sepanjang Januari–Juli 2025 dengan peningkatan pelayanan dan efisiensi.

Direktur Tirta Raja, H. Bertho Dharmo Poedjo Asmanto, MBA, pada Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama DPRD OKU, menegaskan bahwa penyesuaian tarif yang berlaku sejak 1 Januari 2025 adalah langkah penyelamatan sekaligus investasi bersama. 

“Tarif lama Rp5.376,73/m³ bertahan sejak 2011. Padahal biaya produksi sudah mencapai Rp5.692,08/m³. Selisih ini jelas membebani perusahaan,” jelasnya.

Transformasi Layanan dan Efisiensi

Tahun 2025 ditandai dengan berbagai pembenahan, seperti penambahan armada pelayanan (mobil tangki dan pick up tanggap cepat), peningkatan durasi pengaliran, normalisasi booster, serta penurunan tingkat kehilangan air (Non Revenue Water/NRW) dari 41,25% menjadi 39,76%. Perbaikan jaringan perpipaan dan penggantian ratusan water meter juga rutin dilakukan.

Respon Publik: Pro dan Kontra

Meski sempat menuai penolakan, tingkat pembayaran pelanggan pada 2025 mencapai 89,12%. Data ini menunjukkan adanya penerimaan masyarakat terhadap kebijakan baru.

Bahkan, beberapa organisasi mahasiswa seperti HMI dan KAMMI memberikan dukungan demi keberlangsungan layanan air bersih.

Salah satu pelanggan, Purwa, warga Jalan Dr. M. Hatta, mengaku puas dengan pelayanan terbaru. “Kami lapor soal keran dan meteran rusak lewat call center. Petugas datang cepat dan gratis tanpa biaya tambahan,” ungkapnya.

Risiko Tanpa Penyesuaian Tarif

Menurut Bertho, jika tarif tidak disesuaikan, Tirta Raja berisiko gagal menambah pompa, menunda peningkatan kapasitas WTP, hingga terhenti dalam perbaikan jaringan. Kondisi itu bisa berujung pada krisis pelayanan dan ancaman PHK massal.

Melalui semangat “Tirta Raja Gemilang”, perusahaan ini kini lebih menekankan pelayanan publik yang berorientasi pada kenyamanan pelanggan, seperti program Pro-Pelanggan (3K: Kenyamanan, Keringanan, Kemudahan) dengan fasilitas pelayanan nyaman, tangki air gratis untuk darurat, hingga aplikasi digital “Lapor TIRRA”.

“Penyesuaian tarif adalah investasi bersama agar Tirta Raja tidak sekadar bertahan, tapi tumbuh menjadi perusahaan profesional, transparan, dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat OKU,” tegas Bertho.*

(https://okes.disway.id/read/659049/masyarakat-oku-perlu-tahu-tirta-raja-pernah-rugi-rp372-miliar-kini-berjuang-bangkit-dari-krisis-pelayanan)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.