Imbas Jokowi Sempat Larang Ekspor CPO, Harga Kelapa Sawit di Sumsel Anjlok


Baturajaradio.com -Petani  yang menggantungkan hidupnya berkebun sawit di Kabupaten OKU Selatan terpaksa merugi untuk musim panen sawit sejak sebulan terakhir.

Hal itu diungkapkan Tada, petani sawit diwilayah Kecamatan Muaradua.

Menurutnya harga jual sawit terjun bebas di jual petani petani pada para pengepul.

"Sekarang harga jual sawit di petani itu Rp 1500 perkilo.

Sejak tiga minggu lalu harganya turun drastis dari Rp 2000 perkilo," ungkapnya, Selasa (24/5/2022).

Para petani Sawit berharap keputusan presiden kembali membuka kebijakan untuk ekspor sawit dapat menjadi angin segar para petani berharap harga kembali kembali seperti semula.

Dibeberkannya, harga sawit murah disebut para petani imbas dari sejak keputusan Presiden Jokowi larangan untuk mengekspor sawit karena kelangkaan Migor lalu.

"Sebelumnya harga jual sawit di petani yang sempat tinggi menyentuh angka Rp 5000 perkilo.

Iklan untuk Anda: Kamera di kuburan dengan mayat merekam bagaimana wanita itu hidup kembali
Advertisement by
Namun kita berharap dengan kebijakan baru-baru ini harga kembali stabil," harapnya.

Diakuinya, dampak harga murah petani tak memiliki pilihan lain selain terpaksa menjual murah, saat masa panen tiba karena buah tak dapat ditimbun dalam waktu lama.

Sedangkan bagi para petani yang harus berbagi hasil pengurus kebun juga harus gigit jari. 

Hal itu lantaran sitemnya bagi hasil 50:50 setelah dipotong kebutuhan perawatan kebun seperti untuk pupuk, racun rumput, dan keperluan pengelolaan kebun. 

"Memang dengan harga saat ini kita cuma terima hasil sepertihanha saja. Hitungannya tidak balik modal dengan biaya urus selama ini," katanya.

Ekspor CPO Dibuka Kemarin

Presiden Joko Widodo ( Jokowi ) membuka kembali ekspor CPO atau minyak sawit mentah pada Senin (23/5/2022) kemarin. 

Pengumuman itu disambut baik oleh Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Perkebunan Inti Rakyat (Aspekpir) DPD Sumsel Bambang Giyanto. 

Dia mengapresiasi kebijakan pemerintah ini karena apa yang disuarakan oleh petani didengarkan oleh pemerintah sehingga diharapkan dengan kembali kran ekspor dibuka yang bertepatan dengan kenaikan harga minyak nabati dunia ini juga bisa kembali mengkerek harga CPO juga. 

Kalau harga CPO dunia ikut naik maka otomatis juga akan membuat harga Tanda Buah Segar dalam negeri juga ikut membaik. 

"Kita apresiasi kebijakan pemerintah ini namun pemerintah juga harus ada solusi juga agar tetap bisa menyediakan harga minyak goreng murah.

Sebab, selama ini kan pemerintah diolok-olok karena formula menurunkan harga minyak goreng belum tepat," kata Bambang. 

Dia mengatakan rencana pemerintah melarang ekspor CPO dengan harapan bisa menekan harga minyak goreng di pasaran agar lebih murah nyatanya belum berhasil. Jadi harus ada solusi lainnya. 

Bambang juga berharap saat harga TBS nanti sudah kembali membaik agar implementasi pembelian TBS di lapangan juga konsisten sebab selama ini standar kualitas TBS untuk menentukan harganya sudah ada namun realisasi harga di lapangan tidak semuanya terlaksana dengan baik. 

Kalau petani kemitraan harga TBS yang dijual memang harganya sesuai dengan harga yang ditetapkan oleh Dinas Perkebunan Sumsel.

Tapi kadang harga ini tidak berlaku bagi petani mandiri atau yang tidak tergabung dalam kemitraan.

Harga TBS yang dibeli dari petani mandiri tetap terjun bebas meski harga TBS yang dirilis pemerintah sudah membaik. 

"Kita berharap penetapan harga TBS ini benar-benar terealisasi di lapangan sebab kalau keran ekspor dibuka tapi realisasi harga tidak berjalan kan sama saja bohong, petani masih akan sulit juga," jelas Bambang. 

Menunggu kran ekspor buka Senin awal pekan depan, petani juga akan bersiap kembali mengurus kebun yang selama ini mungkin sebagain terbengkalai karena TBS dibiarkan busuk di batang atau juga TBS banyak menumpuk di pengepul.

(https://palembang.tribunnews.com/2022/05/24/imbas-jokowi-sempat-larang-ekspor-cpo-harga-kelapa-sawit-di-sumsel-anjlok?page=all)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.