Langkah Menkes demi Target Jokowi dan Sumber Anggaran Vaksin

Petugas melakukan bongkar muat vaksin COVID-19 Sinovac saat tiba di gudang vaksin (cold room) milik Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu, di Bengkulu, Senin (4/1/2021). Sebanyak 20.280 dosis vaksin COVID-19 Sinovac tiba di Bengkulu selanjutnya akan didistribusikan ke Kab/Kota dengan prioritas peruntukkan kepada tenaga kesehatan dan pelayanan publik.

 

Baturajaradio.com  --  Demi merealisasikan permintaan Presiden Joko Widodo (Jokowi), Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengaku akan berupaya semaksimal mungkin untuk agar program vaksinasi Covid-19 di Indonesia bisa rampung kurang dari satu tahun. Jangka waktu ini lebih cepat ketimbang rencana awal yakni 15 bulan.

"Presiden memberikan tantangan apakah bisa dipercepat sehingga bisa selesai dalam waktu 12 bulan? Kami akan berusaha keras dan kami butuh dukungan dari seluruh teman-teman untuk melakukan hal ini," kata Budi dalam keterangan pers di kantor presiden, Rabu (6/1).

Sejumlah langkah pun disiapkan agar vaksinasi bisa dilakukan secara cepat dan efisien. Pertama, Budi meminta puskesmas, klinik, dan fasilitas kesehatan lainnya untuk segera mendaftarkan unitnya melalui aplikasi PCare atau Primary Care BPJS Kesehatan. Melalui aplikasi ini, fasilitas kesehatan bisa mencatatkan penerima vaksin Covid-19 dan melaporkan adanya kejadian ikutan pascaimunisasi (KIPI).

"Kalau belum mendaftarkan, akan sulit bagi mereka untuk bisa melayani vaksinasi ini terutama untuk mencatat dan menangani kalau ada KIPI," kata Budi.

Selain itu, Budi juga meminta seluruh puskesmas dan fasilitas kesehatan yang kekurangan fasilitas lemari pendingin untuk menyimpan vaksin Covid-19 agar segera melapor ke Dinas Kesehatan setempat. Ia menyampaikan, pemerintah akan berupaya maksiamal memenuhi kebutuhan fasilitas penyimpanan vaksin agar program vaksinasi Covid-19 bisa berlangsung lancar.

"Tolong segera mengontak Dinas Kesehatan terdekat, tolong kontak Kementerian Kesehatan aparatnya yang terdekat kalau perlu juga bisa dikirimkan ke Twitter sama Instagram saya atau Facebook saya supaya kami bisa cepat menangani," kata Budi.

Budi menambahkan, ketersediaan fasilitas pendingin vaksin di daerah menjadi sangat krusial saat ini. Program vaksinasi Covid-19 yang akan dimulai pekan depan, ujarnya, menyasar 1,6 juta tenaga kesehatan.

Sementara tahap selanjutnya adalah vaksinasi terhadap 17,4 juta tenaga pelayanan publik dan 21,5 juta masyarakat berusia lanjut. Gelombang pertama vaksinasi ini akan berlangsung sampai April 2021.

Baru setelah ketiga kelompok di atas, masyarakat umum di daerah yang memiliki risiko penularan tinggi akan diberi suntikan vaksin Covid-19 mulai April 2021. Jumlah target vaksinasi untuk kelompok ini adalah 63,9 juta orang. Bila jumlah vaksin memadai, maka vaksinasi akan diperluas lagi kepada kelompok masyarakat di daerah lain sebanyak 77,4 juta orang, sesuai pendekakatan klaster.

Khusus untuk vaksinasi Covid-19 bagi lansia, Budi juga sempat menyampaikan bahwa hasil uji BPOM tetap menjadi dasar. BPOM, ujarnya, nanti akan menentukan apakah vaksin Covid-19, termasuk jenis atau mereknya, aman diberikan kepada lansia. Hal ini karena uji klinis vaksin Sinovac yang dilakukan oleh Unpad dan Biofarma di Bandung hanya diberikan terhadap relawan berusia 18-59 tahun.

"Itu sebabnya hasil diskusi kita dengan ITAGI secara saintifik, memang disarankan menggunakan vaksin Sinovac sesuai dengan yang diujikliniskan tahap tiga di Bandung," kata Budi dalam keterangan pers di kantor presiden pekan lalu.

Hanya saja, uji klinis vaksin Sinovac di Turki dan Brazil dilakukan juga terhadap relawan berusia di atas 60 tahun. Adanya perbedaan rentang usia inilah yang membuat pemerintah meminta BPOM mengkaji lebih dalam sebelum memutuskan vaksinasi untuk lansia.

In Picture: Distribusi Vaksin Covid-19 di Berbagai Kota di Tanah Air



(https://republika.co.id/berita/qmiffp409/langkah-menkes-demi-target-jokowi-dan-sumber-anggaran-vaksin)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.