Indonesia Perlu Waspada Virus Covid-19 Varian Baru

 


Baturajaradio.com --   Varian baru SARS-CoV-2 (Covid-19) yang pertama kali ditemukan di Inggris pada September lalu perlu diwaspadai. Indonesia perlu melakukan berbagai langkah pencegahan mengingat virus korona yang bermutasi itu kini sudah ditemukan di negara tetangga, yakni Australia dan Singapura.

Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/Kepala BRIN) Bambang Brodjonegoro mengatakan, berdasarkan penelitian yang dilakukan, virus varian baru ini memiliki potensi penularan lebih tinggi. 

“Namun, belum ada bukti varian ini menimbulkan tingkat keparahan yang lebih dan tidak menambah tingkat kematian,” kata Bambang melalui telekonferensi, Kamis (24/12) malam.

Hal yang perlu diantisipasi oleh Indonesia, menurut Bambang, adalah pada tes polymerase chain reaction (PCR) yang menargetkan gen S. Sebab, pada virus varian baru ini kemungkinan ada gangguan akurasi jika PCR-nya menargetkan gen S. Artinya, mesin PCR yang digunakan saat ini kurang efektif dalam mendeteksi virus korona varian baru itu.

Bambang menambahkan, hingga saat ini belum ada bukti virus korona varian baru sudah ada di Indonesia. Namun, dua negara tetangga, yaitu Singapura dan Australia, sudah mendeteksi adanya virus ini. Terkait hal ini, Indonesia harus tetap berhati-hati.

“Kita harus berbagi data, berbagi informasi. Tidak boleh ada yang disembunyikan karena kita berhadapan dengan musuh yang tidak kelihatan,” kata dia.

Pemerintah Indonesia telah memutuskan memperketat pengawasan kedatangan pelaku perjalanan dari Inggris, Eropa, dan Australia. Satgas Penanganan Covid-19 melakukan adendum atau ketentuan tambahan di Surat Edaran Nomor 3/2020 yang berlaku sejak 19 Desember 2020 hingga 8 Januari 2021 yang secara khusus mengatur pelaku perjalanan dari luar negeri ke Indonesia.

Pemerintah menyiapkan lebih dari 3.570 kamar isolasi mandiri untuk para pelaku perjalanan dari Eropa dan Australia. “Di mana biaya pemanfaatan fasilitas isolasi WNI ditanggung pemerintah dan WNA mandiri atau berbayar,” ujar Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito.

Wiku mengatakan, untuk menghindari penularan varian baru virus korona, masyarakat menjalankan protokol kesehatan (prokes) 3M, yakni menjaga jarak, mencuci tangan, dan memakai masker. “Apa pun varian virusnya, tetap waspada dan jalankan protokol kesehatan karena itu proteksi kita,” kata dia. 

Penerapan prokes adalah upaya yang paling murah dan efektif kalau dijalankan oleh seluruh masyarakat. Sebab, kata dia, virus tidak punya kesempatan untuk menularkan. Karena setiap kali penularan terjadi, potensi terjadi mutasi virus itu juga terjadi. Artinya, ketika masyarakat bisa menjaga supaya tidak terjadi penularan, virus akan tertekan dan akhirnya tidak melakukan mutasi. 

Satgas Penanganan Covid-19 juga melakukan pencatatan terhadap kedatangan orang yang melakukan perjalanan dari luar negeri dan akan memasuki Indonesia sejak Maret 2020 lalu. Hasilnya, hampir 3.000 orang terkonfirmasi positif terinfeksi Covid-19.

“Ada puluhan ribu orang yang datang dari berbagai negara sejak Maret dan ternyata hampir terjaring hampir 3.000 yang positif Covid-19, sekitar 2.700 atau 2.800 orang,” kata Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Doni Monardo.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengaku sedang mempelajari strain varian baru virus ini. Menkes Budi Gunadi Sadikin menyatakan telah meminta para ahli di Kemenkes untuk mempelajari strain mutasi virus ini.

Dampak ke vaksin

Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Amin Soebandrio mengatakan, varian baru virus korona ini belum mengganggu kinerja vaksin Covid-19 yang ada. Sejauh pengamatan yang dilakukan oleh peneliti di dunia, kata dia, vaksin sekarang masih bisa efektif untuk digunakan.

Mutasi virus terjadi di protein S, tapi bukan di receptor binding domain (RBD) atau bagian ujung yang menempel pada sel manusia. Pada mutasi yang terjadi di Inggris, sudah terjadi mutasi di RBD, tapi masih belum berpengaruh terhadap kinerja vaksin.

“Namun, hanya beberapa poin yang belum sampai mengubah struktur maupun sifat antigennya. Sehingga, sejauh ini belum mengganggu kinerja vaksin,” kata Amin.

Amin berpesan agar Indonesia tetap berhati-hati dan waspada terhadap masuknya virus ini. Dia juga meminta agar masyarakat tidak panik dengan adanya virus korona varian baru ini. Menurut dia, keberadaan virus varian baru ini harus diterjemahkan menjadi upaya untuk meningkatkan kemampuan mendeteksi virus korona.

Selain itu, keberadaan virus ini di negara tetangga Indonesia harus disikapi dengan memperketat penjagaan. Jangan sampai virus varian baru ini masuk ke Indonesia dengan mudah.


(https://www.republika.id/posts/12747/indonesia-perlu-waspada-virus-covid-19-varian-baru)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.