Tanah Retak Terjadi Usai Banjir di Sangihe


Tanah Retak Terjadi Usai Banjir di Sangihe. Kondisi Kampung Lebo, Kabupaten Kepulauan Sangihe, yang hancur akibat banjir Bandang dan tanah Longsor, Jumat (3/1/2020).  Baturajaradio.com - Tanah retak sepanjang 50 meter ditemukan di permukiman penduduk pascabanjir bandang dan tanah longsor yang melanda Kampung Lebo, Kecamatan Manganitu, di Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara.

Babinsa TNI Sersan Satu (Sertu) Roy Sinadia, anggota Komando Rayon Militer (Koramil) 1301-04/Manganitu mengatakan masyarakat telah melaporkan terjadinya keretakan tanah di atas pemukiman warga Lindongan 1 Kampung Lebo.

"Setelah kami cek, memang benar ada tanah yang mengalami retak sepanjang kurang lebih 50 meter sehingga membahayakan masyarakat setempat," katanya di Lebo, Jumat (10/1).

Kampung Lebo merupakan satu wilayah yang mengalami kerusakan cukup parah. Sebanyak tiga korban meninggal dan puluhan rumah rusak pada banjir bandang yang terjadi Jumat (3/1) lalu. Curah hujan di wilayah tersebut masih cukup tinggi dalam sepekan terakhir ini.

Tanah retak itu dikhawatirkan membahayakan sehingga Pelaksana Harian (Plh) Komandan Rayon Militer (Danramil) 1301-04/Manganitu, Pembantu Letnan Dua (Pelda) Hendrik Makahanap, langsung mengevakuasi warga yang bermukim di sekitar daerah retakan tanah ke tempat pengungsian. "Kami langsung evakuasi masyarakat ke lokasi pengungsian di gedung GMIST Bethani Kampung Lebo," katanya.

Dia mengatakan, ada lima rumah warga yang terancam longsor jika retakan tanah ini terus melebar. Dia berharap semua masyarakat di kampung Lebo tetap waspada terhadap ancaman bencana sebab hujan masih terus mengguyur Kepulauan Sangihe.

"Kami minta semua masyarakat yang bermukim di wilayah rawan bencana untuk terus meningkatkan kewaspadaan sebab hujan masih terjadi di Kepulauan Sangihe," kata dia.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.