Tiga Bulan Ambles, Jembatan di Tasikmalaya Belum Diperbaiki

 Warga melintas di jembatan amblas di Desa Karangsembung, Kecamatan Jamanis, Kabupaten Tasikmalaya, Rabu (14/8). Telah tiga bulan jembatan itu amblas tapi belum ada perbaikan hingga saat ini.Baturajaradio.com - Sebuah jembatan di Desa Karangsambung, Kecamatan Jamanis, Kabupaten Tasikmalaya, mengalami ambles. Lebih dari setengah jalurnya tak bisa lagi dilalui kendaraan yang hendak melintas. Sementara kendaraan yang memaksa lewat harus mengambil sedikit lajur jembatan yang masih tersisa.
Berdasarkan pantauan Republika.co.id, luas amblasan jembatan itu berkisar 3x5 meter dengan kedalaman hingga lima meter. Bahkan, kali kecil yang terdapat di bawah jembatan terlihat mengalir di bawahnya.
Aspal di sekitar ambles jalan jembatan juga telah mengalami retak-retak. Pada sisi kanan dan kiri jembatan, warga telah memasang pembatas berupa kayu dan bambu agar kendaraan tak melintas. Namun, beberapa kendaraan tetap memaksakan untuk melintas melewati sisi jembatan yang hanya tersisa hanya sekitar satu meter.
Salah seorang warga sekitar, Dede Muhammad (21 tahun) mengatakan, amblesnya jembatan itu sudah terjadi dalam tiga bulan terakhir. Namun, hingga saat ini belum ada perbaikan dari pemerintah.
Menurut dia, awalnya amblesnya jembatan hanya sedikit. Namun, lama kelamaan amblesan itu menyebar dan semakin dalam. "Kemungkinan pas musim hujan, air merembes ke bawah. Soalnya kalau hujan, air hujan naik. Jadi merembes terus," kata dia, Rabu (14/8).
Ia mengatakan, jembatan itu memang sudah lama dibangun. Pemerintah juga telah dua kali merenovasi jembatan. Namun, kerusakan kali ini belum juga diperbaiki.
Menurut dia, jembatan itu merupakan salah satu akses utama warga Desa Karangsembung. Akibat amblasnya jembatan itu, warga yang memiliki kendaraan roda empat harus memutar untuk kembali ke rumahnya. 
Dede mengatakan, jarak memutar menuju Kampung Cihamirung itu harus melewati jalan lebih dari 1 kilometer. Namun, yang lebih ironis jembatan itu banyak dilalui oleh anak sekolah.
Sementara itu, salah satu anak sekolah yang melintasi jembatan itu, Winda Rahmawati (15) mengaku setiap hari melewati jembatan itu untuk menuju ke sekolahnya. Meski takut, ia terpaksa harus melewati jembatan itu karena jalan lainnya harus memutar lebih jauh.
"Kalau muter takut telat sekolahnya," kata dia.
Sekretaris Desa Karangsembung Heri Topan mengatakan, pihak desa sudah melaporkan amblesnya jembatan itu ke Badang Penanggulangan Bencana (BPBD) Kabupaten Tasikmalaya untuk diperbaiki. Namun setelah diperiksa, kerusakan itu bukan wewenang BPBD untuk diperbaiki, melainkan ranah Dinas Pekerjaan Umum (PU).
Ia mengaku juga telah melapor ke Dinas PU. Menurut dia, perbaikan telah dijadwalkan pada Agustus 2019. Namun hingga saat ini belum ada realisasi perbaikan.
"Itu memang jalan desa, tapi dulu dibangun oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tasikmalaya," kata dia.
Ia mengatakan jembatan itu sudah dibangun sejak tujuh tahun lalu. Ia memperkirakan, kerusakannya disebabkan oleh rembesan air. Apalagi, menurut dia diperparah tak seluruh bagian jembatan dibuatkan fondasi yang kuat.
Menurut dia, masyarakat juga terus mengeluh meminta jembatan diperbaiki. Apalagi jembatan itu merupakan akses utama untuk anak sekolah dan warga sekotar. 
Pemerintah desa, kata dia, bisa saja menggunakan dana desa untuk perbaikan. Namun, anggaran dana desa tahun ini sudah habis untuk pekerjaan lainnya.
"Kalau mau pakai dana harus ada musrembang. Kalau mau juga 2020 baru bisa diperbaiki," kata dia.(https://nasional.republika.co.id)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.