Banner

Banner
Pemkab OKU

Insinyur Indonesia Diharap Mampu Dorong Daya Saing Bangsa

Kampus UGM Yogyakarta.baturajaradio.com -Ada harapan kepada insinyur-insinyur Indonesia agar dapat secara kreatif dan inovatif. Tujuannya, demi menciptakan nilai tambah dalam meningkatkan daya saing bangsa.

"Insinyur diharapkan dapat berkontribusi dalam meningkatkan daya saing global berbasis iptek," kata Direktur Eksekutif Persatuan Insinyur Indonesia (PII), Ir Rudianto Handojo, saat pelantikan 51 insinyur baru Prodi Profesi Insinyur Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.

Insinyur, tegas dia, dituntut terus berinovasi untuk mempercepat pembangunan dengan mengedepankan aspek keselamatan dan kemanan, serta keberlanjutan lingkungan. Selain itu, mereka harus memutakhirkan pengetahuan dan belajar.

Sehingga, lanjut Rudianto, memiliki kompetensi internasional agar mampu bersaing dengan insinyur dari negara-negara lain. Untuk itu, ia menegaskan PII siap bekerja sama dalam memfasilitasi pengembangan insinyur profesional di Indonesia.

Salah satunya dapat dilakukan dengan mendorong pendidikan sertifikasi insinyur bersama dengan perguruan tinggi, termasuk UGM. Melalui program pendidikan profesi insinyur itu, harapannya dapat meningkatkan jumlah insinyur profesional di Indonesia.

"Porsi lulusan bidang keinsinyuran di Indonesia hanya sekitar 14 persen, jumlah tersebut terbilang rendah dibandingkan dengan porsi lulusan insinyur di Korea yang mencapai 38 persen, Cina 33 persen dan Malaysia 25 persen," ujar Rudianto.

Wakil Rektor Bidang Pendidikan, Pengajaran, dan Kemahasiswaan UGM, Prof Djagal Wiseso Marseno, mengatakan kehadiran Prodi Profesi Insinyur diharapkan mampu tingkatkan jumlah insinyur. Saat ini Indonesia baru mampu hasilkan 100 ribu insinyur per tahun.

Jumlah itu jauh tertinggal bila dibandingkan dengan Cina yang menghasilkan 1,5 juta insinyur dan India mencetak 1,2 juta insinyur setiap tahunnya. Ia mengingatkan, ada korelasi erat antara profesi dengan majunya bangsa.

Secara statisik, Cina bisa maju salah satunya karena profesionalisme, padahal Indonesia dan Cina memiliki kondisi perekonomian yang setara pada 70-an. Tapi, saat ini Cina telah menjadi negara dengan perkembangan perekenomian yang tinggi.

"Indonesia sebagai bangsa yang kaya akan sumber daya alamnya sampai saat ini belum mampu menyamai Cina. Hal ini terjadi karena Indonesia belum mampu mengubah potensi menjadi aset dan menjadikan aset sebagai kapital dengan sentuhan profesionalisme," kata Djagal.

Oleh sebab itu, ia berharap para insinyur profesional dapat menunjukkan kontribusi yang lebih besar untuk meningkatkan daya saing bangsa. Termasuk dan terutama, kepada 51 insinyur UGM yang baru saja dilantik.

(http://republika.co.id)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.