Header Ads

Bahan olahan karet Sumsel diklaim sudah bersih

Baturaja radio - Bahan olahan karet (bokar) petani rakyat Sumsel diklaim pemerintah setempat sudah bersih atau tidak separah beberapa dekade silam yang kerap bercampur dengan ranting tanaman dan air.

Kepala Dinas Perkebunan Sumatera Selatan Fahrurrozi di Palembang, Selasa, mengatakan, seiring dengan sosialisasi ke petani saat ini sudah muncul kesadaran dari petani untuk membuat bokar menjadi bersih.

"Meski belum 100 persen tapi saat ini sebagian besar bokar sudah bersih," kata Fahrurrozi.

Sebelumnya, rendahnya kualitas bokar ini disinyalir menjadi salah satu penyebab harga getah begitu rendah di tingkat petani. Hal ini disebabkan pabrik harus menambah biaya untuk membersihkan.

Fahrurrozi pun tidak mengerti bagaimana pemikiran sesat itu bisa terjadi dan dinyakini para petani rakyat bahwa dengan mencampur bahan-bahan lain akan membuat bokar bertambah berat.

"Sosialisasi tak henti-hentinya diberikan ke petani, agar mereka mengelola bokarnya dengan baik, rupanya sudah berdampak," kata dia.

Sementara itu, Ketua Unit Pemasaran dan Pengelolaan Bokar Desa Sukamaju, Kecamatan Babat Supat, Musi Banyuasin Chairul Mukminin mengatakan saat ini kualitas bokar yang dihasilkan petani sudah bersih.

"Dari 130 anggota UPPB yang seluruhnya petani rakyat di desa kami, bisa dikatakan bokarnya sudah bersih semua," ujar dia.

Ia mengatakan petani sudah menyadari bahwa perilaku buruk mencampur bahan lain dalam bokar justru menurunkan harga.

"Tinggal lagi, bagaimana harga karet ini tidak tergantung lagi dengan pasaran internasional. Semisal ada serapan dalam negeri, sehingga tidak melulu dijual ke luar negeri," kata dia.

Harga karet di tingkat petani dalam tiga tahun ini terjun bebas di kisaran Rp6.000-Rp8.000 per kg. Data hasil lelang terbaru di UPPB Desa Sukamaju per 4 Desember 2018 seharga Rp8.900/kg. (
antaranews)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.