Hemat Listrik 10% Sekarang, Seluruh Indonesia Akan Terang Benderang
Baturaja Radio – Satu pemandangan mengesankan yang sering ada di kota-kota besar Indonesia adalah sorot cahaya lampu yang temaram. Anda boleh setuju atau tidak mengenai hal itu. Namun, faktanya, banyak orang mengatakan pemandangan sorot cahaya lampu yang berasal dari gedung pencakar langit adalah sesuatu yang indah, mengagumkan, dan mungkin mengesankan.
Jakarta adalah contoh terbaik mengenai hal ini. Jika menyempatkan diri melintasi jalanan Jakarta saat malam hari, misalnya, pemandangan sorot cahaya lampu yang temaram seringkali terhampar begitu saja di depan mata.
Langit yang berwarna hitam akan terlihat kontras dengan gemerlap cahaya lampu-lampu dari gedung-gedung bertingkat.
Bisa jadi, semua kegemerlapan kota-kota besar dengan segala dinamika dan aktivitasnya itu membuat siapa pun merasa lebih modern dan kosmopolitan.
Namun, di balik segala pesona dan daya pikatnya yang mengagumkam, ternyata sorot cahaya lampu gedung-gedung bertingkat itu bisa bermakna lain. Makna itu tidak lain adalah konsumsi listrik yang begitu besar.
Ya, siapa sangka di balik keindahan sorot cahaya dari gedung-gedung bertingkat di Jakarta yang mengagumkan tersebut, ternyata pasokan listrik secara nasional tersedot cukup tinggi?
Menurut catatan Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM), 23% konsumsi listrik seluruh Indonesia berpusat di wilayah DKI Jakarta dan Tangerang.
Konsumsi listrik yang besar itu terbagi dalam tiga kelompok: sektor rumah tangga yang sebagian besar berada di DKI Jakarta (34%), sektor industri yang sebagian besar berada di Tangerang (30%), dan sektor bisnis yang sebagian besar berada di DKI Jakarta (29%).
Dengan daya konsumsinya yang begitu besar, tidak heran jika pemerintah melalui Kementerian ESDM mulai menghimbau warga senantiasa menghemat listrik. Penghematan tersebut dilakukan agar pasokan listrik nasional aman untuk beberapa tahun ke depan.
Pasalnya tidak semua wilayah Indonesia sudah teraliri listrik secara maksimal. Saat ini baru Pulau Jawa dan Bali saja yang menjadi fokus perhatian. Semua itu dilakukan karena 68% konsumen listrik Indonesia memang berada di Jawa dan Bali.
Sementara jika dilihat secara makro, Indonesia baru memenuhi kebutuhan listrik nasional sebesar 86,39%. Angka tersebut sangat jauh tertinggal dibanding negara-negara lain.
Kebutuhan listrik nasional Singapura telah mencapai 100%, Brunei Darussalam 99,7%, Thailand 99,3%, Malaysia 99,0%, dan Vietnam 98,0%.
Dalam lima tahun ke depan, Kementerian ESDM pun mengatakan kebutuhan listrik Indonesia bakal tumbuh rata-rata 8,7% per tahun dengan target rasio elektrifikasi 97,4% pada akhir tahun 2019.
Target pertumbuhan yang sedemikian besar itu sesuatu yang wajar. Sebab, jika sedikit menoleh ke belakang, rasio elektifikasi Indonesia baru mencapai 67% di tahun 2010.
Dengan demikian, bisa dikatakan pertumbuhan rasio elektifikasi Indonesia telah meningkat 20% dalam lima tahun terakhir.
Salah satu sudut kota Jakarta yang gemerlapan berkat sorot lampu cahaya dari gedung-gedung bertingkat. Kementerian ESDM menunjukkan 23% konsumsi listrik nasional berpusat di Jakarta dan Tangerang dengan sektor bisnis menjadi satu pelaku utama. (ilustrasi/flickr)
Lalu, kenapa penghematan listrik menjadi penting?
Selain karena masih banyak wilayah Indonesia yang belum teraliri listrik, penghematan juga dilakukan atas dasar efisiensi anggaran yang sedang digalakan.
Secara nasional, penghematan listrik sebesar 10% lebih mudah dilakukan dibanding membangun sumber energi sebesar 10%.
Sebab, Indonesia membutuhkan pembangkit listrik yang besar, yakni setara 10 Mega Watt (MW). Sudah tentu pembangunan tersebut menyedot dana yang lebih besar pula.
Menurut catatan Kementerian ESDM, dana pembangunan pembangkit listrik itu bisa mencapai Rp 450 triliun.
Dengan demikian, pilihan yang bisa dilakukan sekarang adalah efisiensi dan penghematan listrik.
Kita sebagai warga negara berkewajiban membuat Indonesia lebih baik dengan satu-dua langkah sederhana yang bisa dilakukan sehari-hari.
Langkah sederhana yang bisa dilakukan misalnya mematikan lampu bila ruangan tidak dipakai, menggunakan Lampu Hemat Energi (LHE), membuka tirai jendela saat siang hari agar sinar matahari bisa menerangi ruangan, atau sekadar membersihkan lampu secara berkala.
Selain itu, menggunakan peralatan elektronik yang telah dilabeli sertifikasi hemat energi juga akan membantu penghematan listrik.
Sangat mudah dan praktis sekali, bukan?
Di sisi lain, untuk mendukung pelaksanaan penghematan listrik 10% tersebut, Kementerian ESDM telah mengundang beberapa stakeholders di daerah untuk duduk bersama membahas pasokan listrik.
Salah satunya gelaran Focus Group Discussion (FGD) yang diselenggarakan di Nusa Tenggara Barat (NTB) pada Kamis (29/10/2015) silam.
Dalam acara yang bertempat di Kantor Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi NTB tersebut, Menteri ESDM yang diwakili Staf Ahli Menteri Bidang Komunikasi dan Sosial Kemasyarakatan Ronggo Kuncahyo menegaskan beberapa poin penting terkait listrik nasional.
Menurut Ronggo, penilaian masyarakat terhadap kebijakan ESDM yang semakin hari semakin kompleks mutlak diperlukan saat ini.
Pasalnya isu kritis mengenai ESDM bersifat nasional, sehingga perlu mendapat perhatian dan tanggapan lebih lanjut dari daerah.
Hal itu diamini oleh Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi NTB, Husni. Menurut ia, sektor ESDM sangat strategis karena berhubungan langsung dengan kesejahteraan dan kebutuhan rakyat banyak.
Ia pun mendukung penuh penanganan di bidang ESDM, jika nantinya ditemukan permasalahan terkait konsep dan pelaksanaannya di lapangan.
Dengan adanya sinergi antara pusat dan daerah serta partisipasi aktif masyarakat, pasokan listrik Indonesia diharapkan dapat lebih berlimpah di masa mendatang.
Daerah-daerah di luar Pulau Jawa dan Bali yang belum teraliri pasokan listrik secara maksimal akan mendapat perlakuan yang sama baiknya.
Kesenjangan ekonomi dan sosial antara pusat dan daerah juga bisa diminimalisir seiring peningkatan pembangunan sarana, prasarana, dan infrastruktur yang menggunakan listrik. Kesejahteraan penduduk Indonesia di luar Pulau Jawa dan Bali pun akan berkembang seiring waktu berjalan.
Semua itu dapat terwujud jika masing-masing dari kita mampu menghemat listrik 10% saja dalam keseharian mulai sekarang. Cukup mudah dan tidak perlu teori yang muluk-muluk, bukan?
Hal kecil seperti itu ternyata sudah cukup membuat Indonesia lebih benderang dalam beberapa tahun mendatang, sehingga para penduduk yang tinggal di luar Pulau Jawa dan Bali pun dapat menikmati temaramnya lampu-lampu yang berkilauan dengan sama indahnya. (advertorial)(tribunnews)
Tidak ada komentar