Dari Bibit hingga Panen, Kunci Produktivitas Sawit Rakyat OKU Ada di Budidaya
baturajaradio.com - Produktivitas kebun kelapa sawit rakyat tidak hanya ditentukan oleh luas lahan maupun harga tandan buah segar (TBS).
Kualitas bibit dan ketepatan penerapan budidaya sejak awal justru menjadi faktor penting yang menentukan hasil kebun dalam jangka panjang.
Hal itu menjadi salah satu pesan utama Direktur IPB Training, Muhammad Sigit Susanto, M.M., CPC, kepada 176 pekebun asal Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) yang mengikuti Pelatihan Budidaya Kelapa Sawit Angkatan 30, 31, 32, 33, 34, dan 35 di Hotel Beston, Palembang.
Pelatihan yang berlangsung 29 September hingga 4 Oktober 2026 tersebut merupakan kolaborasi Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Direktorat Jenderal Perkebunan, dan IPB Training.
Sigit menegaskan, langkah meningkatkan hasil kebun harus dimulai dari keputusan paling awal, yakni memilih bahan tanam yang berkualitas.
“Petani mestinya memilih bibit yang tersertifikasi. Bibit unggul produktivitasnya sudah diteliti di laboratorium dan dibuktikan di lapangan,” ujarnya.
Menurut Sigit, penggunaan bibit yang tidak diketahui asal-usulnya berisiko menimbulkan persoalan di kemudian hari. Selain berpotensi menghasilkan tanaman dengan produktivitas rendah, bibit yang tidak jelas juga dapat meningkatkan risiko serangan hama dan penyakit.
Karena itu, penggunaan benih bersertifikat tidak semata-mata menjadi pilihan teknis, tetapi merupakan investasi untuk menjaga produktivitas kebun dalam jangka panjang.
“Kalau panennya lebih baik, kualitas hasilnya lebih baik. Secara tidak langsung kesejahteraan petani juga bisa meningkat,” katanya.
Sigit mengingatkan, bibit unggul tidak akan memberikan hasil maksimal tanpa diikuti pengelolaan kebun yang tepat.
Pekebun perlu memahami seluruh tahapan budidaya, mulai dari pengolahan lahan, penanaman, pemeliharaan tanaman, pengendalian hama dan penyakit hingga panen dan penanganan hasil.
Menurutnya, pola budidaya yang baik harus dilakukan secara berkelanjutan agar kebun sawit tidak hanya produktif dalam satu periode, tetapi mampu menjadi sumber pendapatan pekebun dalam jangka panjang.
Pesan tersebut menjadi semakin penting bagi OKU yang memiliki potensi perkebunan sawit cukup besar. Kabupaten ini tercatat memiliki sekitar 72,9 ribu hektare perkebunan kelapa sawit yang didominasi perkebunan rakyat.
Di tengah harga sawit yang dinilai relatif baik, komoditas ini juga semakin menarik bagi pekebun. Bahkan, sebagian pekebun karet mulai beralih atau mengembangkan usaha ke sektor kelapa sawit.
Sekretaris Dinas Pertanian OKU, Ir. Hendri Eka Putra, S.P., M.Si., IPM, mengatakan pelatihan bagi pekebun sawit OKU telah digelar dalam tiga gelombang, yakni awal Agustus, akhir Agustus, dan akhir September.
Total peserta yang telah mengikuti kegiatan tersebut mencapai 451 pekebun.
“Harapannya dengan dibekali ilmu, budidayanya lebih bagus, penanganan hasilnya lebih bagus, dan yang pasti produktivitasnya meningkat,” kata Hendri.
Melalui pelatihan tersebut, para pekebun diharapkan tidak hanya mendapatkan pengetahuan teoritis, tetapi juga mampu menerapkannya di kebun masing-masing.
Salah satu hal yang ditekankan adalah pemilihan sumber benih yang jelas dan tersertifikasi, termasuk dari sumber benih seperti Sembawa.
Dengan penerapan budidaya yang lebih baik, produktivitas kebun diharapkan dapat terus ditingkatkan. Dalam kegiatan tersebut, produktivitas sekitar 2 ton per hektare per bulan disebut sebagai salah satu gambaran capaian yang dapat dituju.
Bagi pekebun OKU, peningkatan produktivitas bukan sekadar soal menambah jumlah produksi. Lebih dari itu, produktivitas menjadi bagian penting untuk menjaga pendapatan, meningkatkan nilai ekonomi kebun, dan memastikan perkebunan sawit rakyat tetap menjadi sumber penghidupan dalam jangka panjang.
sumber: https://palpos.disway.id/ogan-komering-ulu/read/722225/dari-bibit-hingga-panen-kunci-produktivitas-sawit-rakyat-oku-ada-di-budidaya
Tidak ada komentar