Banner

Banner
Kapolres OKU

Harga Cabai Merah di Lampung Capai Rp 80 Ribu Per Kilogram

Seorang penjual menata cabai yang dijual di Pasar Senen, Jakarta, Selasa (9/7/2019). baturajaradio.com -Kenaikan harga cabai merah makin mencekik ibu-ibu rumah tangga dan pengelola restoran di Kota Bandar Lampung dan sekitarnya.

Harga cabai terus bergerak naik menyentuh angka Rp 80 ribu per kilogram di pasar tradisional Kota Bandar Lampung, Selasa (16/7).

Herlina, ibu rumah tangga warga Tanjungkarang Barat mengaku terkejut saat berbelanja di Pasar Pasir Gintung, Bandar Lampung pada Selasa (16/7) siang.

Ia bermaksud membeli cabai merah untuk menyetok selama sepekan. Namun hal itu urung dilakukan karena harga cabai telah mencapai Rp 80 ribu per kilogram.

“Tadinya aku mau beli cabai merah satu kilogram. Tapi karena makin mahal terpaksa beli seperempat saja,” kata ibu dua anak tersebut mengeluh.

Menurut dia, pada Ahad (14/7) lalu harga cabai di Pasar Tani Kemiling masih di kisaran Rp 60 ribuan per kilogram. Namun, dua hari setelahnya harga sudah mencapai Rp 80 ribu.

“Terpaksa saya beli cabai ngecer (eceran) lagi,” ujarnya.

Hal sama dirasakan pengelola rumah makan atau restoran. Harga cabai merah membuat pihak rumah makan mengurangi jatah cabai merah untuk bumbu dan sambal.

“Kami terpaksa menyiasati mahalnya cabai merah dengan mencampur bahan lain agar tetap rasanya pedas,” ujar Bayu, pengelola rumah makan di Tanjungkarang Pusat.

Menurut dia, sejak harga cabai merah mahal dapur restorannya terpaksa menyetok cabai seadanya per hari. Padahal, biasanya membeli cabai merah untuk kebutuhan sepekan dan disimpan di mesin pendingin.

“Sekarang beli cabai harian sesuai kebutuhan sehari saja,” tuturnya.

Ia mengatakan seharusnya pemerintah pusat dan daerah turun tangan ke pasar memperhatikan harga kebutuhan pokok kenapa sampai harganya selangit. Padahal, harga cabai merah tersebut sudah naik saat bulan Ramadhan lalu. 

Tapi, belum ada penurunan lagi sampai memasuki bulan haji.

Pedagang sayur mayur di Pasar Pasir Gintung menyatakan kenaikan dipicu karena pasokan dari agen mulai berkurang lantaran harga di tempatnya sudah tinggi. 

“Kami pengecer hanya beli tidak banyak lagi, takut cabainya busuk karena pembeli berkurang,” ujar Parmin, pedagang sayur.

Biasanya, ujar dia, pembeli cabai sedikitnya setengah kilogram. Tapi, sejak harga cabai naik dan melambung tinggi pembelinya hanya paling banyak seperempat kilogram, selebihnya di bawah timbangan tersebut. (https://nasional.republika.co.id)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.