Ekonom: Surplus Neraca Dagang Juni Bersifat Musiman

Aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Jumat (28/6).baturajaradio.com -Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Piter Abdullah menyebutkan, kondisi neraca dagang yang mengalami surplus 200 juta dolar AS pada Juni terbilang rentan untuk berubah. Sebab, kondisi tersebut cenderung bersifat musiman. 

Piter menuturkan, neraca dagang pada Juni disebabkan penurunan yang sama-sama terjadi pada ekspor maupun impor. 

Secara month to month atau bulanan, penurunan impor lebih besar, yakni 20,70 persen dibanding dengan Mei. "Sementara ekspornya turun 20,40 persen mtm," katanya ketika dihubungi Republika.co.id, Senin (15/7) malam. 

Piter mengatakan, penurunan ekspor masih disebabkan oleh kondisi eksternal di mana harga dan permintaan komoditas menurun.

Terutama, penurunan permintaan pada batu bara dan crude palm oil (CPO) yang diketahui menjadi komoditas utama ekspor Indonesia.

Sementara itu, penurunan impor lebih bersifat musiman dan memiliki potensi besar untuk kembali meningkat. 

Masa libur Lebaran yang terbilang panjang juga menyebabkan kegiatan ekspor dan impor terhenti cukup signifikan.

Menurut catatan Piter, kondisi tersebut menurunkan sekitar 15 hingga 25 persen terhadap volume ekspor dan impor normal.

Melihat berbagai faktor yang ada, Piter memproyeksikan, ada risiko neraca perdagangan pada Juli kembali mengalami defisit. Oleh karena itu, ia mengimbau kepada pemerintah untuk fokus menekan laju impor.

Sebab, menekan ekspor dalam jangka pendek di tengah perlambatan global dan perang dagang tidak akan mudah.

"Yang lebih realistis, menekan pertumbuhan impor," tuturnya. 

Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan neraca perdagangan sepanjang Juni 2019 mengalami surplus 200 juta dolar AS. Nilai ekspor tercatat mencapai 11,78 miliar dolar AS sementara impor sebesar 11,58 miliar dolar AS. 

Meskipun secara akumulasi neraca perdagangan Juni mencatatkan surplus, Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, kinerja ekspor dan impor masing-masing mengalami penurunan. Penyebabnya adalah masa cuti bersama selama sembilan hari pada bulan lalu. (https://republika.co.id)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.