Banner

Banner
Pemkab OKU

Inggris Lancarkan Serangan Internet Besar-besaran Atas ISIS

Baturajaradio.com - Inggris melancarkan serangan internet besar-besaran atas kelompok yang menamakan diri Negara Islam atau ISIS, seperti diungkapkan Direktur GCHQ, kantor komunikasi intelijen Inggris.
Operasi siber ditempuh untuk menghalangi kemampuan ISIS atau Daesh, dalam mengatur serangan dan menekan propagandanya, jelas Jeremy Fleming, mantan agen intelijen MI5 yang kini memimpin GCHQ.
"Untuk pertama kalinya Inggris secara sistematis dan persisten menurunkan upaya internet musuh sebagai bagian dari kampanye militer yang lebih luas. Apakah berhasil? Saya kira ya," tuturnya dalam acara Cyber UK di Manchester, Kamis (12/04).
Dalam pidato umum pertamanya sejak memimpin GCHQ tahun lalu, Fleming menjelaskan bahwa hasil dari operasi mencakup banyak hal.
"Tahun 2017, ada masanya ketika Daesh menghadapi hampir tidak mungkin untuk menyebarkan kebencian mereka lewat internet, untuk menggunakan saluran mereka yang bisa menyebar retorikanya atau mengandalkan penerbitannya."
"Upaya ini memperlihatkan bagaimana serangan internet bisa dilakukan dengan sasaran tertentu dan efektif," tambah Fleming.
Khalid Masood sempat menerobos kompleks parlemen Istana Westminster dan menikam seorang polisi sebelum ditembak mati. (PA)


Bagaimanapun ada kesadaran bahwa perang melawan ISIS belum selesai karena kelompok militan Islam itu terus 'mengupayakan atau menginspirasi serangan lebih lanjut di Inggris' dan 'menemukan ruang tanpa hukum sebagai landasan operasinya'.
Sepanjang tahun 2017 lalu, Inggris menghadapi tiga serangan yang diduga keras berkaitan dengan ekstrimis Islam.
Pada 22 Maret, Khalid Masood -pria Inggris berusia 52 tahun yang lahir dengan nama Adrian Elms- menabrakkan mobil ke arah kerumunan orang di Jembatan Westminster sebelum menerobos masuk ke kompleks gedung parlemen Wesminster.
Empat orang tewas -termasuk seorang aparat polisi- sementara Masood mati ditembak polisi.
Mengenang serangan bom Manchester, 22 Mei 2017, yang menewaskan 22 jiwa. (Getty Images)


Dua bulan kemudian, 22 Mei 2017, bom besar meledak usai konser musik Ariana Grande di Manchester, yang menewaskan 22 orang dengan 250 lainnya cedera. Pengebom bunuh dirinya adalah Salman Abedi yang berusia 22 tahun, yang dilaporkan sempat pergi ke Suriah dan menjadi radikal sebelum melancarkan serangan di Manchester Arena itu.
Tanggal 3 Juni, delapan orang tewas dan 48 lainnya cedera ketika sebuah mobil barang melaju dengan cepat di London Bridge dan menabrak kerumunan orang.
Tiga pria di dalam mobil barang tersebut -Khuram Shazad Butt, Rachid Redouane, dan Youssef Zaghba- mengenakan rompi pengebom bunuh diri palsu dan mati ditembak polisi, delapan menit setelah melancarkan serangan. (https://news.detik.com)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.