Banner

Banner
Pemkab OKU

Unit 180, Satuan Khusus Korut untuk Operasi Serangan Siber

Baturaja Radio- Dunia dihebohkan dengan serangan siber bernama WannaCry dalam satu pekan terakhir. Sejumlah pengamat mengklaim memiliki bukti bahwa pelaku serangan WannaCry adalah Korea Utara (Korut). Pyongyang sendiri menuduh klaim tersebut sangat konyol. 

Namun, patut dicatat bahwa badan intelijen Korut (RGB) memang memiliki unit khusus yang diberi nama Unit 180. Fakta tersebut diperkuat kesaksian oleh seorang mantan profesor ilmu komputer di Korut yang membelot ke Korea Selatan (Korsel) pada 2004, Kim Heung-kwang.

“Unit 180 terlibat dalam peretasan institusi keuangan dengan mengakses dan menarik uang dari rekening bank,” ujar Kim Heung-kwang, mengutip dari Reuters, Minggu (21/5/2017). Para peretas Korut itu disebutnya sengaja beroperasi dari luar negeri agar tidak meninggalkan jejak.
“Para peretas sengaja pergi ke tempat lain yang memiliki layanan internet lebih baik dari Korut agar tidak meninggalkan jejak,” sambung Kim. Ia menambahkan, sejumlah peretas itu bekerja di bawah penyamaran sebagai karyawan firma perdagangan, cabang perusahaan Korut di luar negeri, atau joint ventures di China atau Asia Tenggara. 

Kesaksian Kim Heung-kwang itu diperkuat oleh pernyataan Wakil Menteri Luar Negeri Korsel Ahn Chong-ghee. Dalam pernyataan tertulisnya, ia menyebut Korut melakukan serangan siber lewat negara ketiga untuk menyamarkan asal serangan dan menggunakan infrastruktur informasi serta komunikasi negara tersebut. 

Korut diduga terlibat dalam peretasan di Bank Sentral Bangladesh pada 2016. Negara serba tertutup itu diyakini memiliki hubungan dengan kelompok peretas yang menamakan dirinya Lazarus yang berhasil mencuri uang senilai 81 juta dolar Amerika Serikat (AS) atau setara Rp1,1 triliun. Ahn Chong-ghee yakin, Korut juga terlibat dalam serangan ke sejumlah bank di Filipina, Vietnam, dan Polandia.
Salah satu negara Asia Tenggara yang menjadi pusat operasi siber Korut adalah Malaysia. Mantan peneliti di Kepolisian Korsel, Yoo Dong-ryul mengatakan, para peretas itu bekerja di perusahaan perdagangan atau teknologi informasi (IT) di Malaysia. Beberapa di antaranya menyamar sebagai pengelola situs yang menjual game atau program untuk perjudian.(http://news.okezone.com)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.