Header Ads

Komjen Buwas: Tak Ada Tempat yang Bebas Narkoba, Termasuk di BNN

Baturaja Radio - Kepala BNN Komjen Budi Waseso ikut menyampaikan materi sosialisasi empat pilar bersama MPR RI. Dalam paparannya, Komjen Budi menegaskan soal bahaya narkoba yang sudah masuk ke semua lini kehidupan.

"Kalau babi (dalam Islam) sudah diharamkan, apalagi narkoba yang merusak badan kita. Generasi muda setiap harinya yang meninggal dunia karena penyalahgunaan narkotika 40-50 orang," ujar pria yang akrab disapa Buwas ini.

Hal tersebut disampaikannya di hadapan ratusan mahasiswa dalam acara Sosialisasi Empat Pilar di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (5/9/2016). Turut hadir pula sebagai pembicara Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid.

"Memang ada by design untuk kehancuran NKRI. Ini bentuk proxy war, perang jenis baru tidak menggunakan senjata," kata dia.

"Tidak ada yang bisa bebas narkoba termasuk di tempat saya di BNN, bahkan di tempat-tempat pendidikan agama. Sudah terbukti tersusupi oleh masalah narkotika dengan maksud penghancuran," imbuh Buwas.

Bahkan oknum-oknum yang terlibat narkoba menurutnya sudah masuk di lini TNI/Polri. Jaringan peredaran narkotika telah membayangi institusi-institusi keamanan negara itu.

"Kita harus tindakan tegas, peran kita secara keseluruhannya. Sesuai tanggung jawab dan tugasnya. Tidak harus seperti Filipina, tapi penyelesaian bisa seperti di Filipina, bisa tuntas," ujar mantan Kabareskrim itu.

Buwas mengaku bersyukur bisa mengabdi sebagai Kepala BNN dan terlibat dalam upaya pemberantasan narkoba di Indonesia. Ia mengaku sempat mengucapkan terima kasih kepada Presiden Joko Widodo karena telah dipindahkan dari jabatan Kabareskrim ke Kepala BNN.

"Saya ucapkan terimakasih ke Presiden. Pertama saya lepas dari bully-an. Saya dulu jadi Kabareskrim sering dibully, bahkan keluarga saya juga dibully. Kedua saya dapat amanah. Kalau Kabareskrim yang saya selamatkan harta benda. Di BNN, saya selamatkan jiwa raga. Tidak bisa dinilai harganya," urai Buwas.

Amanah yang besar itu dirasakannya sebagai bentuk kepercayaan yang luar biasa. Buwas menyebut Jokowi merupakan perpanjangan tangan Tuhan untuk dirinya bisa mengabdi lebih pada bangsa dan negara.

"Saya sampaikan, Pak saya orang yang dipilih Allah. Karena hati bapak diketuk Allah. Saya orang terpilih. Dan saya akan menunjukkan yang terbaik sebagai kepala BNN," kisah Buwas disambut tepuk tangan peserta sosialisasi.

Tak hanya itu, Buwas bercerita bahwa sang ayah yang seorang personel TNI AD awalnya tidak suka ketika ia memilih menjadi seorang polisi. Sebab selama ini stigma masyarakat kurang baik terhadap aparat Korps Bhayangkara itu.

"Saya terpanggil untuk membuktikan polisi tidak seperti itu. Di Kabareskrim saya tidak tebang pilih kasus. Lalu saya dianggap gaduh, maka saya diamankan. Hehe. Tapi tidak apa-apa, saya justru senang," ungkap jenderal bintang tiga itu.

"Saya setiap hari bekerja jam 06.00 WIB sudah di kantor. Tapi saya tidak pernah menuntut anak buah saya untuk bekerja seperti saya. Karena gaji saya lebih besar, fasilitas yang saya terima lebih banyak," sambung Buwas.

Sementara itu, Hidayat Nur Wahid menjelaskan betapa pentinganya peran Empat Pilar dalam berbangsa dan bernegara. Salah satu yang dapat mengancam Empat Pilar di kehidupan adalah bahaya narkoba.

"Narkoba melanggar pancasila. Orang yang terkena narkoba sudah nggak ada urusan dengan keluarganya. Diiambil itu uang bapak, ibu, adiknya. Kalau sama keluarga nggak inget, apalagi dengan NKRI, Pancasila, UUD 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika," sebut Hidayat di lokasi yang sama.

Menurutnya, MPR membutuhkan BNN untuk bisa terus mensosialisasikan Empat Pilar. BNN pun menurut Hidayat juga bisa membantu menyadarkan masyarakat, mulai dari generasi muda untuk melawan peredaran narkoba di Indonesia.

"Untuk menyadarkan mahasiswa ataupun warga bangsa karena narkoba berdampak pada bahayanya. Warga juga bisa menyelamatkan Indonesia dengan mereka menyelamatkan diri sendiri, lingkungannya, masyarakat mereka dari narkoba," tutup politisi PKS itu. (news.detik)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.