Header Ads

Dialog dan Pendidikan Jadi Kunci Cegah Radikalisme pada Remaja

Baturaja Radio - Aksi terorisme dan radikalisme yang belakangan ini marak terjadi di Indonesia, tidak lepas dari masih tingginya rasa kesukuan dan keagamaan yang melekat pada individu. Selain itu, ideologi yang secara masif masuk dan didoktrinkan pada para remaja.

Hal tersebut disampaikan oleh pengamat radikalisme Alpha Amirrachman pada Diskusi Kebangsaan, Radikalisme: Ancaman dan Tantangan Pemuda di Demang Cafe, Sarinah, Jakarta Pusat.

Rasa kesukuan dan keagamaan, Alpha menyebutnya sebagai identitas politik. Indonesia sebagai negara yang merdeka, menurut Alpha belum berhasil menyatukan identitas politik masyarakatnya dalam Pancasila. Malahan, identitas politik tersebut makin terlihat setelah adanya demokrasi.

"Pertama, identitas politik. Negara kita walaupun sudah merdeka, namun disayangkan tidak bisa melepaskan isu SARA. Pengelompokam makin keras saat demokrasi. Identitas lokal menguat begitu masif. Keliatan kebangsaannya belum selesai, masih mencari jati diri," kata Alpha di diskusi yang juga menghadirkan Sekretaris Dewan Pertimbangan PP FKPPI Marsekal Madya (Purn) Ian Santoso Perdanakusuma sebagai narasumber, Minggu (31/7/2016).

Bahasa Indonesia, kata Alpha adalah penyelamat bangsa ini di saat identitas politik masih begitu kuat di negara ini. "Untungnya kita masih punya Bahasa Indonesia untuk menyelamatkan bangsa sampai saat ini. Satu hal, kita masih ketinggalan dengan China dan India yang merdeka tidak beda jauh dengan kita," lanjutnya.

Permasalahan kedua adalah ideologi. Menurut Alpha, radikalisme dan terorisme yang sering terjadi lebih dari sekedar masalah ekonomi semata. Tapi lebih pada kedua ideologi tersebut yang masuk dan didoktrin kepada pemuda.

"Kedua adalah ideologi. Belakangan ideologi keras banyak masuk ke Indonesia. Ini bukan sekedar masalah ekonomi. Ada juga ideologi-ideologi yang masuk dan didoktrinkan," imbuh Alpha.

Untuk mencegah semakin dalamnya paham radikalisasi dan terorisme masuk kepada para pemuda, Alpha menyarankan untuk lebih sering diadakan dialog keagamaan. Namun yang dibahas dalam dialog tersebut bukan tentang ideologi tiap agama, tapi lebih kepada dialog untuk kemaslahatan semua umat beragama.

"Upaya pencegahan lewat dialog dan sektor pendidikan. Yang perlu ditekankan, dialog antar agama sebaiknya tidak perlu membicarakan masalah ideologi, mencari persamaan tiap agama. Tapi harusnya mengerjakan hal-hal yang sejalan. Contohnya membersihkan rumah ibadah secara bersama-sama atau membuat dialog tentang perkembangan anak," imbuh Alpha.

"Dalam menangkis isu radikal, BNPT harus lebih ke pencegahan bukan hanya penindakan. Kalau cuma penindakan bisa menimbulkan dendam. Itu yang bisa membuat orang masuk ke dalam radikalisme," tutupnya.

Sementara itu, Sekretaris Dewan Pertimbangan PP FKPPI Marsekal Madya (Purn) Ian Santoso Perdanakusuma mengatakan, Pancasila ada kunci untuk menekan radikalisme dan terorisme yang terus berkembang di Indonesia.

"Pancasila ada kuncinya. Saat mempertahankan Pancasila itu relatif aman. Kalo dibilang diktator ya harus diktator, bukan pemimpin diktator tapi perlu jadi diktator untuk diri sendiri. Salah satu tugas kita semua adalah untuk melindungi bangsa ini dari teror," kata Ian.

Ian juga menyindir masih banyaknya rakyat Indonesia yang mengagung-agungkan HAM. Padahal menurutnya Hak Asasi Negara lebih tinggi dibandingkan HAM. Kebebasan berekspresi di Indonesia juga dalam pandangannya masih belum dewasa.

"Kebebasan berekspresi saat ini belum dewasa. Kebebasan berpendapat sekarang tanpa didasari kepatuhan kepada ideologi (Pancasila). Nation right lebih tinggi dari human right. Ini yang tidak pernah dibahas," ujarnya.(http://news.detik.com)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.